Atlet dari cabor lari dan angkat besi putri mengalami pingsan sementara kemarahan pelatih karate Jateng dipicu karena tak terima hasil laga di kelas 55 kg putra.
- Tim WowKeren
- Jumat, 14 September 2012 - 08:36 WIB
WowKeren - Hingga hari keenam, PON Riau 2012 masih diterpa masalah. Bukan hanya soal kualitas venue, PB PON juga sedang menuai sorotan akibat masalah di cabor lari dan angkat besi putri serta pelatih yang mengamuk saat pertandingan karateka putra.
Kamis (13/9), digelar lomba cabang atletik nomor 1500 meter putri di Stadion Atletik Rumbai, Riau. Tiba-tiba saja pelari Jambi, Yuniartha, jatuh pingsan 50 meter setelah melampaui sekali putaran lintasan. Menyusul setelahnya yakni Ambar Winarsih dari Jawa Tengah serta pelari Riau, Friska. Sedangkan atlet Jawa Tengah, Dita Sari, mengeluh sakit di bagian paha belakang dan sempat ingin muntah.
Sayangnya, jumlah petugas medis hanya 5 orang dengan satu dokter. Para pelari yang pingsan sempat terlantar di lintasan. Evakuasi yang lambat juga membuat pengawas pertandingan harus berteriak agar petugas medis keluar dari lintasan. Ini karena masih ada pelari yang akan melewati lintasan.
Selain cabang lari putri, insiden pingsan dialami pula oleh dua lifter putri yakni Nur Mulianita yang turun di nomor 53 kg dan Melisa pada angkatan Clean And Jerk kelas 48 kg. Nur pingsan usai gagang besi mengenai tenggorokannya ketika dia mencoba mengangkat beban 75 kilogram. Sementara Melisa tak sadarkan diri setelah melakukan angkatan dengan beban 85 kg.
PB PON juga harus mengevaluasi diri karena kericuhan yang terjadi di laga karate kelas 55 kg di GOR Tribuana, Pekanbaru, Kamis (13/9). Seusai wakil DKI Jakarta, Tebing, menang 4-2 atas karateka Jateng, Imam Tauhid Raga Nanda, pelatih Imam, Munginsidi, mengamuk dan melemparkan kursi ke arena pertandingan. Dia juga mengejar, mendorong dan mencoba menyerang wasit serta juri pertandingan.
Aksi tersebut memicu emosi masing-masing pendukung. Polisi dan petugas keamanan sampai harus membantu melerai sebelum pertikaian berbuntut panjang.
"Keputusan harus fair dan jujur," protes anggota kontingen Jateng, Amin Siahaan. "Biarkan yang terbaik jadi pemenang dan juara. Selama itu dilakukan dan dijalankan, semuanya pasti enak."
(wk/)