Komisi Disiplin PSSI akhirnya menjatuhkan hukuman atas pelaku dan orang-orang yang dinilai terlibat aksi gol bunuh diri pada laga PSS Sleman kontra PSIS Semarang pada Minggu 26 Oktober.
- Tim WowKeren
- Jumat, 21 November 2014 - 07:57 WIB
WowKeren - Pertandingan konyol sekaligus memalukan antara PSS Sleman kontra PSIS Semarang pada Minggu 26 Oktober 2014 lalu akhirnya membuat para pelakunya diganjar hukuman seumur hidup. Tak hanya itu, sang pelatih, asisten pelatih dan ofisial dari kedua tim juga kena batunya.
Ketua Komdis PSSI, Hinca Panjaitan, memutuskan untuk memberi hukuman pada pemain termasuk kiper yang terlibat gol bunuh diri dengan hukuman seumur hidup dan denda Rp 100 juta di Kantor PSSI Senayan, Jakarta, Kamis (20/11). Karena tak kooperatif, dua pemain asing PSIS, Ronald Fagundes dan Julio Alcorse dilarang bermain selama 5 tahun serta denda 150 juta.
Selain itu, pelatih PSS Sleman, Hery Kiswanto, dan pelatih PSIS Semarang, Eko Riyadi, dilarang kembali ke dunia persepakbolaan. Komdis juga menghukum ofisial PSS Sleman, Rumadi, dan Eri Febrianto, sekretaris tim, dengan hukuman yang sama. Ofisial PSS lain, Edi Broto dan Eri Sahrudin mendapatkan sanksi skorsing 10 tahun dari dunia sepak bola dan denda Rp 150 juta.
"Eri Febrianto atau Ableh adalah orang yang memerintahkan pemain untuk melakukan tingkah laku buruk," kata Hinca seperti dikutip dari Kompas (21/11). "Untuk keputusan Suparjianto (manajer PSS) masih dipending (ditunda) karena dia tidak datang pada sidang Komdis hari ini."
Asisten pelatih PSS Setiawan dan Budi Cipto juga disanksi hukuman 10 tahun dan denda Rp 150 juta. Keduanya berada di pinggir lapangan saat kejadian namun tidak membantu proses penyidikan.
Sementara itu, manajer PSIS Wahyu Winarto diganjar Rp 200 juta. Pasalnya, ia dinilai sebagai penyusun rencana untuk membalas gol bunuh diri yang dilakukan pemain PSS.
Kendati demikian, semua hukuman tersebut masih bisa dibanding. "Sekarang, kami akan laporkan ke AFC di Kuala Lumpur. Investigasi ini tetap berlanjut untuk mencari aktor intelektual di luar lapangan, ini praktek jahat harus dibongkar tuntas," pungkas Hinca.
(wk/)