Kisah Peluru Terakhir Sniper Tatang Koswara dan Selamat Berkat Merah Putih
Nasional

Tatang menjadi sniper sejak tahun 1975 dan merasakan bertugas di TimTim hingga akhirnya pensiun dengan membuka warung makan di Bandung.

WowKeren - Tatang Koswara jadi perbincangan publik Indonesia dengan pengalamannya sebagai penembak jitu. Sniper Indonesia terbaik tingkat dunia itu sempat berbagi pengalaman jadi bintang tamu acara "Hitam Putih" sebelum meninggal karena serangan jantung, Selasa (3/3).

Tatang meraih perhatian publik karena merupakan pensiunan tentara yang berprestasi tingkat dunia sebagai sniper. Meski diakui sebagai sniper terbaik 13 dunia, Tatang menyandarkan hidup dari membuka warung makan di Markas Kodiklat di Bandung. Dia pensiun pada 1994 setelah mengabdi sejak 1960-an dan tak mengeluh masa tuanya hidup pas-pasan.

Tatang menjadi sniper sejak tahun 1975 lewat program mobile training teams (MTT) yang dipimpin pelatih dari Green Berets Amerika Serikat, Kapten Conway. Tatang dan 59 anggota TNI AD dilatih Kapten Conway untuk menembak jitu pada jarak 300, 600 dan 900 meter serta kemampuan intelejen. Dia kemudian dilempar ke Medan Perang Timor Timur melumpuhkan pasukan Freetilin usai selesai pendidikan 2 tahun.

Tatang bercerita, dalam satu misi pernah membawa 50 peluru dan 49 peluru dihabiskan untuk menewaskan musuh. Namun ia menyimpan sebutir peluru sisa. "Sesuai apa yang diajarkan, peluru terakhir itu digunakan untuk diri saya sendiri. Daripada saya jatuh ke tangan musuh, lebih baik menembak diri sendiri," ucapnya di "Hitam Putih", Selasa (3/3).

Setiap sniper juga diwajibkan menghancurkan senjata miliknya dan memecahkan teleskop bidik sebelum bunuh diri jika tertangkap musuh. "Senjata itu sangat akurat. Tak boleh sampai jatuh ke tangan musuh, harus dihancurkan," jelasnya. Peluru terakhir itu pun tak pernah digunakan Tatang.


Kisah menarik lainnya saat Tatang diselamatkan merah putih ketika berada di tengah kepungan 30 bersenjata di jantung pertahanan lawan. Tak bisa bergerak, bayangan kematian terlintas di benaknya namun dia bertekad untuk membunuh sang komandan sebelum mati. Namun, Tatang dihujani peluru setelah menembak kepala komandan dan terkena dua pantulan peluru yang sebelumnya mengenai pohon.

"Darah mengalir deras hingga sudah sangat lengket. Tapi, saya tidak bergerak karena itu akan memicu lawan menembakkan senjatanya," tuturnya. Tatang baru bergerak malam dengan mengikat tali di bambu dan mencongkel peluru di betis menggunakan gunting kuku.

Lalu ia melepas syal merah putih tempat menyimpan foto keluarga untuk mengikat kakinya. "Saya memiliki prinsip, hidup mati bersama keluarga, minimal foto keluarga," lanjut Tatang.

"Saya pun berdoa diberi keselamatan agar bisa melihat anak keempat saya yang masih dalam kandungan, lalu mengikatkan syal merah putih. Ternyata, darah berhenti mengalir. Merah putih menjadi penolong saya."

(wk/)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!