Beginilah curhatan seseorang yang merasa diskriminasi ketika akan menitipkan anak karena persoalan beda agama.
- Tim WowKeren
- Kamis, 04 Mei 2017 - 08:07 WIB
WowKeren - Indonesia merupakan negara dengan banyak perbedaan. Entah suku, agama, ras dan golongan. Dengan banyaknya perbedaan itu, semestinya hal ini tidak menjadi penghalang dan menghalangi kepenting.
Namun sepertinya perbedaan ini menjadi polemik besar di Indonesia. Banyak orang yang tidak menghormati perbedaan tersebut sehingga ada yang merasa mengalami diskriminasi.
Misalnya yang sedang menjadi pembahasan di Twitter Selasa (2/5) lalu. Seorang wanita dengan akun @melianach mengunggah postingan teman di Facebook. Postingan itu tentang bagaimana anaknya mengalami diskriminasi agama.
Puncak gunung es dari robeknya tenun kebangsaan 😣😨😢 pic.twitter.com/dB4y5U0qPF
— Meliana Christanty (@melianach) May 2, 2017
Seorang teman bernama Uli Pangaribuan bercerita di akun medsosnya mengenai anaknya, Mahira yang akan ditaruh di tempat penitipan anak. Namun disanalah dia mengalami diskriminasi karena beda agama dengan pemilik tempat penitipan anak.
"Tadinya Mahira mau dititip di Daycare yang ada disekitar perumahan. Jadi sebelum benar2 dititip qt survey dl lah kesana sekalian bawa Mahira mau liat respon dan reaksinya. Ketika semua uda OK dr segala pembayaran, jadwalnya dll... diakhir kata saya di tanya 'maaf bu, agamanya apa yak? Krn yg boleh gabung dgn Daycare kita harus yg seiman dengan ownernya'." tulis Uli.
"Langsung kaget dengan pertanyaannya. Saya sempat menjawab ini kan Daycare, saya pikir daycare itu untuk umum krn sama sekali tdk ditulis utk agama tertentu ya sudahlah akhirnya batalah kita menitipkan Mahira disana. Mahira yg masi bayi sudah mengalami diskriminasi. Pengalaman yg sgt pait di negara yg Bhineka. Dalam hati bertanya kenapa masi bayi saja mereka harus dipisah2kan, plz biarkan saja mereka bermain tanpa harus membeda2kan identitasnya..."
Meliana mengunggah postingan itu kembali di Twitter dan segera viral. Hingga saat ini, pengalaman pahit itu telah dibagikan 1.3 ribu orang dan dikomentari 111 orang.
(wk/)