Belum dapat relokasi rumah hingga kini, korban Tsunami Aceh yang lumpuh ini malah diusir dari barak penampungan.
- Tim WowKeren
- Jumat, 05 Mei 2017 - 10:16 WIB
WowKeren - Berlin Silalahi (46), seorang korban penggusuran dari barak pengungsi tsunami di Gampong Bakoy, Kecamatan Angin Jaya, Aceh Besar itu, hanya bisa tergolek tak berdaya di atas ubin tempatnya beristirahat. Ayah dua anak perempuan tersebut mengaku sudah tak tahan lagi dengan penyakitnya, sampai-sampai ingin mengajukan permohonan euthanasia atau tindakan suntik mati, ke Pengadilan Negeri Banda Aceh.
"Kalau sebelumnya saya masih bisa duduk dalam waktu yang agak lama, tapi kalau sekarang, sebentar saja duduk badan saya langsung terasa sakit semua, dan saya harus berbaring lagi, saya sudah tidak tahan lagi,” ungkapnya dilansir Kompas, Kamis 4 Mei 2017. Pria yang dulunya bekerja sebagai mekanik mesin bengkel sepeda motor ini mulai sakit-sakitan sejak tinggal di barak pasca tragedi Tsunami Aceh. Hingga akhirnya pada tahun 2014 lalu, ia mengalami kelumpuhan setelah menjalani pengobatan medis dan alternatif di Kota Lhokseumawe.
Berlin bersama istri dan anaknya saat ini ditampung di Kantor Yara (Yayasan Advokasi Rakyat Aceh) bersama 17 kepala keluarga lain. Mereka tinggal berdesak-desakan karena hanya ada ruangan kecil di sana.
"Kami tampung sementara. Ada 16 laki-laki dewasa, 16 perempuan dewasa, dan 48 anak-anak," kata Safaruddin selaku pengacara dari Yayasan Advokasi Rakyat Aceh yang mendampingi Berlin dilansir Kumparan, Kamis 4 Mei 2017. Safaruddin menjelaskan, sejak menjadi korban tsunami dan menempati barak penampungan, Berlin dan keluarga belum mendapat relokasi rumah. Malahan, bersama 17 kepala keluarga lainnya, mereka diminta keluar dari barak.
Permohonan agar disuntik mati diajukan Berlin karena merasa sudah putus asa dan ingin mengakhiri hidup. "Permohonan sudah kami ajukan ke pengadilan," kata Safaruddin. Keluarga Berlin, jelas Safaruddin, sudah merelakan kepala keluarganya meminta eutanasia. "Mereka sudah ikhlas dan tidak ingin melihat Berlin terus sakit, apalagi dalam keadaan tidak ada tempat tinggal yang tetap seperti sekarang," sambungnya.
(wk/)