Simak penjelasan KPI tentang sinetron-sinetron Indonesia yang semestinya bisa meniru konsep 'Descendants of the Sun' salah satunya.
- Tim WowKeren
- Sabtu, 23 September 2017 - 11:01 WIB
WowKeren - Sinetron-sinetron di Tanah Air memang agaknya berlomba untuk mencetak rating tertinggi. Hal itu menjadi sebuah kebanggaan bagi tim sebuah sinetron yang sukses menarik perhatian para penonton setianya. Ya, sebut saja "Dunia Terbalik" yang kini menjadi sinetron dengan perolehan rating tertinggi sejak awal penayangannya pada Januari lalu.
Dilansir CNN Indonesia, pengamat siaran publik, Muhammad Heychael menilai adanya penilaian rating itulah sayangnya yang membuat sinetron-sinetron Indonesia tak memerhatikan kualitas tayangannya. Persoalan rating harusnya tak menjadi inti pencapaian dari sebuah tayangan.
"Mengacu pada rating yang dilepaskan ke pasar begitu saja. Itu jadi problem besarnya yang mengakibatkan mekanisme industri tidak memberi ruang pada kualitas," ungkap Heychael. "Siaran bukan diukur kualitasnya, tapi sebanyak apa disukai atau ditonton."
Di sisi lain, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengatakan persoalan rating hingga tak mementingkan kualitas itu juga erat kaitannya dengan konsep program yang kurang matang. Ketua KPI, Yuliandre Darwis, membandingkan sinetron Indonesia dengan drama dari Korea Selatan, salah satunya "Descendants of the Sun".
Yuliandre menekankan pada segi jumlah episodenya yang bisa diikuti. Ia mengharapkan sinetron Tanah Air memiliki jumlah episode sebanyak-banyaknya 20 agar nantinya akan hadir lagi tayangan dengan judul baru.
"Seharusnya ide itu diciptakan sudah sejak lama, seperti 'Descendants of The Sun'," kata Yuliandre. "Sinetron itu kan ketika episodenya mentok di 20, kemudian ganti ide [dengan judul baru]. Kalau di sini kan enggak, selagi bagus hajar terus," lanjutnya.
"Selain itu, yang jadi permasalahannya adalah miskin konten karena tidak ada ide dan sumber daya yang mampu menciptakan [konten] sebaik di luar negeri," ujar Yuliandre. "Sekarang sinetron luar ratingnya selalu tinggi, artinya dari segi konten lebih humanis daripada sinetron jadi-jadian Indonesia yang konsumtif dan hedonis," tandasnya.
(wk/)