Dolar Tembus Rp 15.210, Pertamina Juga Umumkan Kenaikan Pertamax Jadi Rp 10.400 Per Liter
energitoday.com
Nasional

Kenaikan harga Pertamax dilakukan karena harga minyak mentah dunia yang juga terus merangkang naik.

WowKeren - Nilai tukar Dolar AS terhadap Rupiah masih terus berada di level tinggi. Pada Rabu (10/10) pagi tadi, Dolar AS dikabarkan masih menguat di angka Rp 15.201. Dilihat dari Google Finance, pada siang hari, Dolar AS juga masih bertengger di kisaran Rp 15.182 terhadap Rupiah.

Sayangnya, di tengah kabar Rupiah yang sudah tembus hingga Rp 15.000 tersebut, PT. Pertamina (Persero) juga mengumumkan adanya kenaikan BBM. Pertamina memberikan kenaikan sejumlah Rp 900 per liter untuk Pertamax Series, Dex Series, dan Biosolar Non PSO. Harga ini berlaku di seluruh Indonesia mulai pukul 11.00 WIB tadi.

Pertamax yang sebelumnya dijual dengan harga Rp 9.500 per liternya akan naik menjadi Rp 10.400 per liter. Alasan kenaikan harga BBM ini dijelaskan oleh External Communication Manager Pertamina, Arya Dwi Paramita. Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga Pertamax ini dilakukan lantaran adanya kenaikan pada harga minyak mentah dunia.


Kenaikan ini tidak berlaku untuk BBM jenis Premium, Biosolar PSO, Pertalite dan juga daerah yang sedang terkena bencana seperti NTT dan Sulteng. "Penyesuaian harga BBM jenis Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, Pertamina Dex, dan Biosolar Non PSO merupakan dampak dari harga minyak mentah dunia yang terus merangkak naik di mana saat ini harga minyak dunia rata-rata menembus US$ 80 per barel," jelas Arya seperti dilansir Detik pada Rabu (10/10).

Penetapan kenaikan BBM tersebut didasarkan pada Permen ESDM No. 34 tahun 2018 Perubahan Kelima Atas Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 39 Tahun 2014, Tentang Perhitungan Harga Jual Eceran BBM. Arya mengungkapkan bahwa kenaikan ini masih lebih kompetitif dibandingkan dengan harga jual di SPBU lain.

Di sisi lain, terkait Dolar AS yang masih terus menguat terhadap Rupiah, Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla, meminta Bank Indonesia untuk intervensi. "Kalau masih bisa diintervensi oleh BI, ya diintervensi BI," ujar Jusuf Kalla ditemui di Kantor Wakil Presiden beberapa waktu lalu.

Jusuf Kalla juga menambahkan bahwa ada dua alasan kenaikan Dolar yang terus terjadi, yakni dari dalam dan dari luar. Faktor luar di antaranya termasuk perang dagang antara Amerika Serikat dan China. "Ada masalah dari luar, ada juga masalah dari dalam. Jadi dua-duanya. Kalau masalah dari luar, kita tidak bisa apa-apa," pungkas Jusuf Kalla.

(wk/silm)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait