TNI Bongkar Fakta Kelompok Pembunuh 31 Pekerja di Papua Punya Senjata Standar NATO
Instagram/galeri.prajurit.tni
Nasional

Kepala Penerangan Kodam XVII/Cendrawasih, Kolonel Infantri Muhammad Aidi, mengungkap Kelompok Kriminal Bersenjata punya pemasok dari luar negeri.

WowKeren - Kasus penembakan beberapa pekerja Trans Papua oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) menggegerkan publik. Peristiwa nahas tersebut dikabarkan terjadi pada hari Minggu (2/12) kemarin.

Terkait dengan peristiwa tersebut, Kepala Penerangan Kodam XVII/Cendrawasih, Kolonel Infantri Muhammad Aidi mengatakan bahwa KKB tersebut memiliki senjata ilegal dengan standar militer. Aidi bahkan mengaku bahwa senjata KKB tersebut memiliki standar organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).


NATO sendiri adalah sebuah organisasi Internasional yang didirikan oleh Negara-negara di kawasan Samudera Atlantik Utara (Benua Eropa dan Amerika Utara) dengan tujuan untuk menjaga keamanan bersama. Beberapa Negara yang tergabung dalam organisasi ini adalah Perancis dan Amerika Serikat.

"Dari data laporan intelijen yang kita terima, mereka memiliki senjata api," ucap Aidi di Jakarta pada 4 Desember 2018. "Senjata standar militer. Jumlahnya puluhan, standar militer, standar NATO."

Meski demikian, Aidi belum memiliki informasi detail terkait dengan kekuatan senjata yang dimiliki kelompok tersebut. Ia hanya menyebutkan perlengkapan senjata standar militer tersebut merupakan hasil rampasan dari anggota TNI-Polri dan pasokan dari luar negeri secara ilegal.

"Sebagian senjata api itu diambil dari hasil rampasan terhadap TNI-Polri di pos-pos (penjagaan)," jelas Aidi. "Sebagian juga yang selama ini berhasil kita sita senjatanya ada yang indeks TNI dan Polri, ada juga yang bukan indeks TNI-Polri artinya berasal dari luar (negeri)."

Meski menyebut KKB mendapat pasokan dari luar negeri, Aidi belum bisa memberikan informasi secara pasti negara mana yang menyuplai kelompok tersebut. Ia hanya mengatakan senjata milik KKB tersebut kebanyakan produksi pabrik senjata dari Negara Perancis, Rusia, dan Amerika Serikat.

"Termasuk buatan Pindad sendiri ada. Memang tidak semua negara memiliki produksi senjata," terang Aidi. "Tapi semua negara memiliki angkatan bersenjata. Jadi bisa dari mana saja itu senjatanya."

Tak hanya terkait dengan senjata, Aidi juga sudah memiliki informasi mengenai basis pergerakan kelompok tersebut. Menurutnya, KKB tersebut bergerak di empat distrik di Kabupaten Nduga yang masih terisolir, yaitu Distrik Yigi, Distrik Mugi, Distrik Mapenduma, dan Distrik Koroptak.

"Selama ini daerah tersebut adalah daerah yang terisolasi," ungkap Aidi. "Mereka jadikan basis pergerakan."

Aidi juga menduga bahwa dalang peristiwa berdarah tersebut adalah KKB pimpinan Egianus Kogoya. Kelompok Egianus memang terkenal sering melakukan serangkaian serangan penembakan terhadap masyarakat sipil dan TNI-Polri di wilayah Papua.

You can share this post!

Related Posts