PBNU Nyatakan Siap Jadi 'Juru Damai', Dubes Tiongkok Jelaskan Masalah Muslim Uighur
Nasional

Dubes Tiongkok menyambangi kantor Pengurus Besar Nadhatul Ulama (PBNU) untuk menjelaskan perihal kasus Muslim Uighur yang tengah menjadi sorotan dunia.

WowKeren - Masalah yang menimpa kaum minoritas Muslim Uighur tengah menjadi perhatian dunia. Di Indonesia sendiri, kasus ini telah menuai reaksi dari sejumlah massa. Buntutnya, pada Jumat (21/12) kemarin, sejumlah massa menggelar demo di depan kantor Kedutaan Besar (Kedubes) Tiongkok di Jakarta. Mereka menuntut pemerintah agar bersikap tegas terhadap kasus dugaan penindasan yang dialami kaum Uighur.

Menanggapi kasus yang terus bergejolak di dalam negeri, Dubes Tiongkok untuk Indonesia, Xiao Qian, datang menyambangi Kantor Pengurus Besar Nahldatul Ulama (PBNU) pada Senin (24/12) kemarin. Dalam kunjungannya tersebut, Xiao Qian juga membahas mengenai duduk perkara yang terjadi antara Muslim Uighur dan pemerintah Tiongkok.

Xiao Qian menjelaskan bahwa masyarakat Tiongkok dari suku apapun bebas memeluk agama mereka, tak terkecuali dengan kaum minoritas Muslim Uighur. Namun, Xiao Qian menjelaskan bahwa terdapat upaya sekelompok orang untuk memisahkan Xinjiang dari Tiongkok. Diketahui, kaum minoritas Uighur ini banyak bermukim di Xinjiang.


Terkait dengan adanya tindakan separatisme ini, pemerintah Tiongkok tentu mengambil tindakan tegas. "Tapi demikian masih ada segelintir oknum yang berencana memisahkan Xinjiang dari Tiongkok dengan menggunakan tindakan kekerasan, bahkan terorisme," kata Xiao dilansir dari CNN Indonesia pada Selasa (25/12).

Sementara itu, pihak PBNU mengaku siap menjadi perantara antara pemerintah Tiongkok dan Muslim Uighur. Apalagi, rekam jejak PBNU sebagai "juru damai" sudah terbukti sukses dalam beberapa kasus perseteruan.

"NU akan ikut dan terus bersuara jika persoalan Muslim Uighur-China adalah persoalan agama," ungkap Ketua Umum PBNU, Said Aqil. Kendati demikian, masalah ini akan menjadi masalah domestik jika memang berkaitan dengan separatisme yang bersifat politik. Untuk itu, jika memang demikian, masyarakat internasional tidak bisa ikut campur. Namun, jika hal ini adalah persoalan agama, Said mengaku siap terus menyuarakan perdamaian.

Diketahui, NU sendiri telah berhasil menjadi mediator dalam serangkaian konflik. Beberapa di antaranya adalah konflik Pattani dan pemerintah Thailand, Sunni-Syiah di Irak, dan juga Taliban dengan pemerintah Afghanistan yang masih terus diupayakan.

(wk/silm)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait