Kedua Paslon adalah calon pemimpin negara sehingga harus bisa menyampaikan visi dan misi dari identifikasi persoalan yang ada.
- Wahyu
- Senin, 07 Januari 2019 - 15:32 WIB
WowKeren - Keputusan KPU menetapkan format pertanyaan terbuka untuk debat Capres menuai banyak kontroversi. Ada yang mendukung dan tak sedikit pula yang menyayangkan hal tersebut.
Wakil Ketua DPR RI mengaku kecewa terhadap format tersebut. Menurut Fahri, dengan pihak Komisi Pemilihan Umum (KPU) memberikan daftar pertanyaan pada masing-masing Paslon, justru membuat debat Capres terkesan seperti lomba cerdas cermat.
"Loh enggak boleh begitu dong," kata Fahri di Kompleks Parlemen, Jakarta pada Senin (7/1). Ini cerdas cermat kelompencapir kan."
Fahri menyebut bahwa hal-hal yang berkaitan dengan pertanyaan yang akan disampaikan pada debat Capres harus berangkat dari riset akademis. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kegaduhan nantinya, terutama terkait netralitas para panelis.
Ia menyebut bahwa pihak KPU terkesan menyesatkan sehingga tak heran jika orang menaruh curiga. Menurut Fahri, publik akan berpikir bahwa apa yang dilakukan KPU seolah-olah adalah upaya untuk menyederhanakan kompetisi.
"Jadi menurut saya KPU agak missleading," ujar Fahri. "Dan layak orang curigai dia seperti diformat untuk menyederhanakan pertarungan atau kompetisi ini."
Ia menambahkan bahwa visi dan misi terlahir dari identifikasi terhadap persoalan yang ada. Sehingga menurutnya, hal itu seharusnya bisa dijelaskan di luar kepala, bukan dengan hafalan.
Penyampaian pertanyaan sebelum debat digelar mirip mekanismenya seperti ujian di perguruan tinggi. Fahri menegaskan bahwa kedua Paslon bukan akan melamar di suatu perusahaan untuk bekerja, namun mereka akan memimpin negara.
"Itu yang harus dijelaskan di luar kepala. Kalau itu enggak ada terus dia siapa?," tanya Fahri. "Ini kan bukan orang mau lulus ujian perguruan tinggi atau mau bekerja di perusahaan. Tapi kan orang yang akan memimpin sebuah negara besar."
Fahri menilai, sebagai lembaga penyelenggara pemilu, seharusnya KPU lebih bisa melihat apa yang menjadi kebutuhan rakyat. Ia kurang setuju dengan alasan KPU membatalkan penyampaian misi yang didasarkan pada kesepakatan kedua Paslon.
Dengan begitu, rakyat bisa mengetahui secara langsung pandangan setiap Paslon. Sehingga, mereka bisa dengan yakin menentukan pilihannya saat Pilpres nanti.
"Kita harus gali dalamnya," imbuh Fahri. "Sehingga rakyat itu ketika masuk ke kotak suara adalah transaksi dia, transaksi yang berat."
(wk/wahy)