Jangan sampai pemilu yang hanya berlangsung sekali dalam lima tahun menodai keutuhan NKRI.
- Wahyu
- Selasa, 08 Januari 2019 - 16:43 WIB
WowKeren - Mendekati Pilpres 2019, suasana kampanye semakin memanas. Mulai dari munculnya hoaks yang dihembuskan pihak-pihak tertentu hingga masalah debat Capres yang memicu terjadinya polemik.
Katib Aam Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf, ikut menanggapi fenomena ini. Menurutnya, pemilihan umum seperti Pilpres maupun Pilkada berpotensi menyebabkan polarisasi masyarakat.
Hal itu diungkapannya saat berkunjung ke kediaman Amir Ma'ruf Amin. Yahya menekankan pentingnya strategi untuk membangun rekonsilisai.
"Kita tahu ini bahwa kompetisi politik, bukan hanya Pilpres ini saja, di berbagai tingkatan (seperti) di Pilkada, cenderung mengakibatkan polarisasi Masyarakat," terang Yahya saat bersilaturahmi di kediaman Ma'ruf untuk membahas usaha pencegahan polarisasi umat, Senin (7/1). "Jadi kita mulai pikirkan bagaimana strategi kita untuk membangun rekonsiliasi.
Ia menegaskan pentingnya kebesaran hati untuk menerima apapun hasil dari pemilihan umum tersebut. Sebab, hasil pemilu merupakan sesuatu yang menjadi milik bersama. Inilah hal dasar yang harus dipahami oleh semua pihak.
"Supaya nanti apapun hasilnya (pemilu), dari kompetisi politik itu harus menjadi milik bersama," imbuh anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) tersebut. "Itu yang menjadi pandangan yang paling mendasar yang harus diperhatikan."
Hal serupa juga diungkapkan oleh Ma'ruf. Ia mengingatkan agar Pemilu tidak menjadi sebab perpecahan bangsa. Meskipun Pemilu hanya berlangsung sekali dalam lima tahun, ia berharap agar keutuhan bangsa tidak ternodai oleh hal-hal negatif selama kampanye berlangsung.
"Jangan sampai pemilu itu menyebabkan perpecahan," ujar Ma'ruf di kediamannya pada Senin (7/1). "Pemilu kan kita lakukan per-lima tahun, (tetapi) keutuhan bangsa harus kita jaga sepanjang masa."
Meskipun tak bisa dipungkiri bahwa banyak aura negatif selama kampanye, Ma'ruf berharap hal itu segera berakhir. Ketika Pemilu selesai, maka hal-hal negatif yang pernah mencuat di permukaan juga harus berakhir. Sehingga hal ini tidak sampai menimbulkan perselisihan yang berlarut-larut.
"Karena itu mungkin ekses negatif akibat pemilu (termasuk) Pilpres, itu sudah harus berakhir sampai terpilihnya masing-masing kandidat," tegas pria yang akrab disapa Abah Ma'ruf tersebut. "Jadi legislatif, eksekutif, begitu selesai perbedaan dan perselisihan harus (juga) selesai."
(wk/wahy)