Bikin Jusuf Kalla Marah-Marah, PT Adhi Karya Jawab Soal Biaya Bangun LRT 1 Kilometer Rp 500 Miliar
Nasional

JK sebelumnya menyoroti beberapa hal yang ia nilai tidak efisien dalam pembangunan LRT dengan biaya Rp 500 miliar per 1 kilometernya.

WowKeren - Pembangunan light rail transit (LRT) JakartaJakarta-Bogor-Depok-Bekasi (Jabodebek) baru-baru ini mendapatkan sorotan dari Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla alias JK. Ia bahkan terlihat marah lantaran biaya yang dikeluarkan untuk proyek tersebut dinilai terlalu fantastis.

Selain itu, JK juga menyayangkan beberapa kebijakan yang dibuat oleh pemerintah pusat yang bekerja sama dengan BUMN PT. Adhi Karya. Di antaranya adalah mengenai pembangunan rel yang melayang dan juga anggaran yang membengkak.


Menanggapi kritik yang diberikan Wapres Indonesia tersebut, PT Adhi Karya akhirnya angkat bicara. Menurut pihaknya, anggaran tersebut sudah tepat. "Kami juga sudah melakukan kajian dan ini yang paling optimum," ujar Direktur Operasi II PT Adhi Karya, Pundjung Setya Brata, di Pancoran, Jakarta, pada Seni (14/1).

Selain sudah tepat, biaya pembuatan LRT disebut memang membutuhkan biaya yang tak sedikit. Pundjung juga menjelaskan bahwa biaya pembuatan LRT di Indonesia ini sudah lebih murah dibandingkan dengan yang dibuat underground atau di bawah tanah.

Selain biaya yang dinilai amat besar, JK juga mengkritisi mengenai letak pembangunan LRT yang dilakukan tepat di samping jalan tol. "Buat apa elevated kalau hanya berada di samping jalan tol?" ucap JK.

Mengenai hal ini, PT Adhi Karya juga memberikan penjelasan. Ia menyebut bahwa pihaknya sudah melakukan berbagai pertimbangan dengan matang. "Nah, kalau kita melihat ada potensi di jalan tol yang bisa kita manfaatkan untuk trase LRT. Ide ini tak hanya diadopsi LRT," sambung Pundjung.

Mengenai kenapa LRT tidak dibangun dengan menggunakan rel reguler saja, PT Adhi Karya juga memberikan jawaban. Menurut mereka, rel yang dibuat turun-naik nantinya akan mengurangi kenyamanan penumpang. Selain itu, pertimbangan mengenai daya yang dibutuhkan dalam pembuatan rel yang tidak melayang juga telah diperhatikan. Oleh karena itu, jalannya dibuat konsisten dengan jalur rel melayang.

"Biaya investasi penting jadi perhatian, tapi kalau gunakan teknologi yang salah gradien (kemiringan) terlalu tajam, operasinya akan mahal, kalau nanjak kebutuhan power lebih besar," terang Pundjung. "Biaya kereta paling besar energi cost. Ini harus kita kontrol supaya nantinya tak besar sehingga butuh gradien tertentu."

You can share this post!

Related Posts
Loading...