Meski demikian IKA SMA Pangudi Luhur tetap menghormati hak-hak demokrasi para alumni untuk memberikan dukungan saat Pilpres.
- Wahyu
- Kamis, 07 Februari 2019 - 15:30 WIB
WowKeren - Belum lama ini Capres nomor urut 01 Joko Widodo alias Jokowi mendapat dukungan dari sejumlah alumni SMA Pangudi Luhur. Jokowi yang mendapat dukungan kala itu mengaku kaget. Pasalnya, SMA PL adalah tempat di mana Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno menuntut ilmu dulu.
Terkait hal ini, Ikatan Akumni SMA PL menegaskan bahwa organisasi mereka tidak akan mendukung Paslon manapun. Hal itu dikemukakan oleh Ketua Umum IKA SMA PL Arief Satria Kurniagung.
Arief mengatakan bahwa pihaknya bersikap netral dalam gelaran Pilpres 2019. Ia meminta agar tidak ada pihak-pihak yang memanfaatkan nama organisasi. Sebab, jika IKA mendeklarasikan dukungan terhadap salah satu Paslon, maka itu artinya akan mengatasnamakan seluruh alumni SMA PL.
"IKA SMA PL secara institusi harus netral dan tidak memanfaatkan nama organisasi IKA SMA PL untuk mendukung Capres tertentu," kata Arief dilansir CNNIndonesia.com pada Kamis (7/2). "Karena kalau IKA SMA PL sudah membuat dukungan maka akan mengatasnamakan seluruh alumni SMA PL."
Meski demikian, IKA SMA PL tidak akan melarang jika ada alumni sekolah yang ingin memberikan dukungan untuk Paslon tertentu. Sebab, hal itu merupakan hak setiap warga negara untuk memilih dan IKA SMA PL menghormati hak demokrasi para alumni. Namun dengan satu catatan, bahwa dukungan tersebut tidak boleh mengatasnamakan IKA SMA PL.
"Saya tegaskan di poin berikutnya," lanjut Arief. "Bahwa IKA SMA PL tidak mau membatasi hak demokrasi seluruh alumni."
Menurut Arief, pelibatan SMA PL dalam kontestasi Pilpres tak lepas dari fakta bahwa Sandiaga pernah bersekolah di SMA tersebut. "PL bukan yang pertama, tapi ini konteksnya agak unik karena di sini ada Sandi," lanjut Arief.
Adanya perbedaan pendapat terkait dukungan pada Pilpres 2019 dinilai Arief sebagai hal yang wajar. Sebab, dari dulu para alumni SMA PL sudah terbiasa dengan adanya perbedaan pendapat semacam itu. Dari situ, mereka kemudian akan bersama-sama mencari solusi untuk memecahkan masalah yang terjadi.
"Kami sudah biasa dari dulu berbeda pendapat, argumen, sah-sah saja, (dan) wajar-wajar saja," tegas Arief. "The end of the day kita cari solusi sama-sama."
(wk/wahy)