Sekjen PDIP, Hasto Kristiayanto, angkat bicara soal puisi 'Doa yang Ditukar' buatan Fadli Zon.
- Bertilia Puteri
- Jumat, 08 Februari 2019 - 11:15 WIB
WowKeren - Puisi buatan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon, masih ramai diperbincangkan. Banyak pihak yang lantas meminta penjelasan mengenai puisi bertajuk "Doa yang Ditukar" tersebut pada Fadli.
Pasalnya, puisi tersebut dinilai memiliki unsur sindiran. Banyak tokoh yang mempertanyakan siapa sosok yang sebenarnya disindir oleh Fadli dalam puisi tersebut.
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) juga turut angkat bicara tentang puisi tersebut. Sekjen PDIP, Hasto Kristiayanto, menilai bahwa puisi tersebut merupakan salah satu upaya Fadli untuk memenangkan paslon yang didukungnya dalam Pilpres 2019, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.
"Ini juga tak lepas dari upaya-upaya sebelumnya yang dilakukan Fadli," tutur Hasto di kawasan Cianjur, Jawa Barat, Kamis (7/2). "Hanya karena kekuasaan, pemilu, kemudian segala cara, hal, semuanya dilakukan."
Menurut Hasto, Fadli secara tidak langsung telah "menyerang" sosok ulama kharismatik, Kiai Maimun Zubair alias Mbah Moen, lewat puisinya. Hasto menilai Fadli tengah membabi buta berusaha mendapatkan kekuasaan, hingga tidak melihat dulu siapa tokoh yang ia "serang".
"Puisi Pak Fadli Zon itu secara langsung atau tak langsung ditunjukkan kepada Mbah Maimun," ujar Hasto. "Sosok ulama yang begitu dihormati."
Hasto menyebut bahwa Fadli menyerang Mbah Moen karena puisi tersebut dibuat beberapa hari setelah sang ulama menyebut nama Prabowo saat memanjatkan doa. Padahal kala itu ada Joko Widodo di samping Mbah Moen.
Oleh sebab itu, Hasto meminta agar Fadli memiliki sopan santun kepada sang Kiai. Apalagi mengingat status Fadli sebagai Wakil Ketua DPR.
"Fadli Zon sebagai Wakil Ketua DPR RI yang harusnya menunjukkan jati diri sebagai pemimpin, minimal tahu sopan santun, minimal tahu budi pekerti," terang Hasto. "Apalagi puisi jangan sampai dilakukan untuk menyerang sosok ulama, kita hormati, para tokoh kita. Dari sosok pemimpin harusnya muncul keteladanan, bukan kebencian."
Politikus PDIP tersebut lantas mengingatkan agar masyarakat tak mudah terprovokasi dalam masa kampanye politik ini. Apalagi Pilpres 2019 seharusnya bisa menjadi momentum untuk meningkatkan pekerti bagi masyarakat.
"Kita harap setiap warga negara menunjukkan jati diri sebagai orang timur," jelas Hasto. "Bukan seenaknya berbicara, karena kita negara Pancasila."
(wk/Bert)