Abu Janda Senang Isu Penghapusan Akunnya Banyak Diperbincangkan dan Jadi Trending
Nasional

Penghapusan akun Abu Janda dan somasinya ke Facebook menjadi topik hangat di kalangan warganet.

WowKeren - Nama Arya Permadi alias Abu Janda kini tengah banyak diperbincangkan. Pasalnya, pegiat media sosial ini mengancam akan menuntut Facebook dengan gugatan sebesar Rp 1 triliun karena akunnya ditutup.

Akun Abu Janda sendiri dilenyapkan oleh Facebook karena dinilai sebagai penyedia jasa konten kebencian alias jaringan Saracen. Penghapusan akun Abu Janda pun menjadi topik hangat di kalangan warganet.


Beberapa tagar terkait sempat menjadi trending topic di Twitter. #PermadiAryaBosSaracen hingga #AbuJandaSaracen menjadi topik yang ramai diperbincangkan warganet.

Abu Janda

Twitter

Meski namanya diasosiasikan dengan Saracen, Abu Janda mengaku senang dirinya banyak diperbincangkan. Ia juga mengaku sudah siap apabila isu penutupan akunnya digunakan sebagai amunisi kubu oposisi di tahun politik ini.

"Ini kan tahun politik, sudah risiko saya yang sudah identik dengan pendukung petahana," terang Abu Janda dilansir Republika, Selasa (12/2). "Kalau digoreng habis-habisan oleh kubu oposisi saya sudah siap risikonya.”

Kini Abu Janda masih menunggu respon Facebook atas somasi yang telah ia layangkan. Facebook sendiri telah membuat pernyataan akan melakukan investigasi ulang atas penghapusan sejumlah akun tersebut.

"Setelah kita kirim somasi mereka kasih respons ya, kita akan dalami lagi. Akan investigasi lagi, bukan tidak mungkin ditinjau ulang," jelas Abu Janda. "Tapi kalau Facebook arogan, kita tempur sudah di pengadilan dan saya akan polisikan juga.”

Diketahui, Facebook telah menghapus 207 halaman Facebook, 800 akun Facebook, 546 grup Facebook, dan 208 akun Instagram yang diduga disalahgunakan pada 31 Januari 2019. Akun-akun tersebut diindikasi memiliki perliaku tidak asli yang terkoordinasi dan ditautkan ke Grup Saracen.

Sindikat Saracen sendiri diketahui menawarkan jasa penyebaran kebencian bernuansa SARA di media sosial. Sindikat ini diketahui telah mulai beraksi sejak November 2015. Kasus Saracen menunjukkan bahwa berita palsu dan berbagai provokasi bernada kebencian serta prasangka SARA bukan hanya tindakan individu semata, melainkan tindakan yang terorganisir.

You can share this post!

Related Posts
Loading...