Kampanye akbar Prabowo Subianto di Stadion Utama Gelora Bung Karno digelar pada Minggu (7/4) kemarin. Serangkaian momen dalam kampanye tersebut justru mendapatkan kritikan.
- Silmi Amalia Fidareni
- Senin, 08 April 2019 - 16:44 WIB
WowKeren - Para siswa penari Ratoh Jaroe yang hadir dalam kampanye akbar Prabowo Subianto mengaku kecewa. Pasalnya, meski sudah menunggu sejak subuh untuk tampil dalam kampanye paslon 02 yang dilangsungkan di GBK itu, mereka justru batal tampil.
Para siswa yang berasal dari beberapa SMA di Jakarta ini mengaku kecewa berat. Mereka yang sejatinya akan tampil sebagai pembuka agenda kampanye Prabowo, tiba-tiba dibatalkan.
Sekitar 100 siswa SMA ini mengaku sudah menunggu sejak pukul 04.09 WIB. Mereka disebut akan tampil sebagai pembuka acara kampanye pada pukul 07.00 WIB. Tak ada kepastian, sekitar pukul 09.15 WIB, panitia justru menyatakan jika mereka batal tampil. "Kami sudah menunggu sejak pukul 04.09 WIB," terang seorang siswa seperti dilansir Tempo pada Senin (8/4).
Di sisi lain, kekecewaan juga disampaikan para siswa lantaran mereka mengaku kelaparan usai menunggu sejak subuh. "Akhirnya kami diberi makan sekitar jam 9.15. Panitia memberi makan menu nasi uduk dengan lauk telor, bihun, dan tempe orek. Satu bungkus kami makan berdua," sambung siswa tersebut.
Meski sudah diberikan honor Rp 100 ribu per siswa, mereka mengaku tetap kecewa lantaran batal tampil. "Yang membuat kecewa, dari awal kami datang tidak ada informasi. Dan kami dibiarkan menunggu lama di belakang panggung," pungkasnya.
Selain momen batalnya penampilan Ratoh Jaroe, kampanye akbar Prabowo juga mendapatkan kritikan soal salat subuh berjamaah yang digelar sebelumnya. Seperti dalam foto yang viral di media sosial, terlihat salat subuh berjamaah di momen kampanye Prabowo tersebut memiliki saf yang campur.
Terkait hal tersebut, pihak Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan juga Ma'ruf Amin turut memberikan komentar. Menurut MUI, fenomena salat dengan saf bercampur tersebut bisa sah, namun bisa juga haram.
Sementara menurut Ma'ruf Amin, sebaiknya saf perempuan dan laki-laki memang dipisah. "Memang saya enggak paham bagaimana dia mengaturnya itu. Mestinya (saf) dipisah laki-laki dan perempuan," kata Ma'ruf di Hotel Grand Zuri, Tangerang, Banten, Minggu (7/4) kemarin.
(wk/silm)