Menko Polhukam, Wiranto, menjelaskan bahwa pelaku kerusuhan tersebut berbeda dengan kelompok yang berunjuk rasa dengan damai di Bawaslu pada Selasa (21/5).
- Bertilia Puteri
- Rabu, 22 Mei 2019 - 15:49 WIB
WowKeren - Aksi unjuk rasa hasil Pilpres 2019 berlangsung ricuh. Kerusuhan di kawasan Tanah Abang pada Rabu (22/5) dini hari memakan korban jiwa. Asrama Brimob di Petamburan, Jakarta Pusat, bahkan dibakar massa tak dikenal.
Menanggapi kericuhan tersebut, Menko Polhukam Wiranto pun angkat bicara. Wiranto menjelaskan bahwa pelaku kerusuhan berbeda dengan kelompok yang berunjuk rasa dengan damai di Bawaslu pada Selasa (21/5).
"Aksi itu menyerang petugas asrama polisi yang ditinggali keluarga anggota Brimob, di dalam kantor polisi bakar mobil, dan aksi brutal lainnya," terang Wiranto di Gedung Kemenko Polhukam pada Rabu (22/5). "Yang tujuannya menciptakan kekacauan dan jatuh korban."
Wiranto lantas menegaskan bahwa narasi aparat keamanan bertindak sewenang-wenang hingga memakan korban tidaklah benar. Sang Menteri memastikan bahwa para petugas keamanan tidak membawa senjata saat menjalankan tugasnya.
"Saya katakan itu tidak benar. Jangan sampai diputarbalikkan," tutur Wiranto. "Sebab saat demo, petugas diminta tidak bersenjata tidak menggunakan senjata api. Senjata di gudang. Mereka hanya pakai perisai, pentungan, dan perlengkapan lain, bukan senjata api. Enggak mungkin petugas bunuh rakyat saat aksi demo."
Tak hanya itu, Wiranto juga mengungkap bahwa pelaku kerusuhan tersebut merupakan preman bayaran. "Yang membuat kekacauan adalah preman-preman yang dibayar. Nanti Kapolri akan jelaskan, ada yang bertato. Siapa dia, pengakuannya gimana, akan dijelaskan. Jangan sampai dilemparkan ke masyarakat pemerintah sewenang-wenang diktator, aparat seenaknya lawan rakyat. Jangan terkecoh hasutan itu" ungkap Wiranto.
Menurut Wiranto, sudah ada skenario yang disiapkan untuk menimbulkan kekacauan. Skenario itu juga disebut bertujuan menimbulkan kebencian pada pemerintah.
"Setelah kita lakukan investigasi, kesimpulan kita ini ada niatan atau skenario buat kekacauan dengan menyalahkan petugas, antipati pada pemerintah," jelas Wiranto. "Dan membangun satu kebencian pada pemerintah saat ini dengan lakukan upaya kesejahteraan masyarakat kita."
(wk/Bert)