Peneliti pertahanan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Muhammad Haripin, menjelaskan bahwa keempat tokoh yang ditarget memiliki posisi strategis di pemerintahan.
- Bertilia Puteri
- Rabu, 29 Mei 2019 - 16:12 WIB
WowKeren - Dalam kerusuhan Aksi 22 Mei, terungkap adanya rencana pembunuhan 4 tokoh nasional dan seorang pimpinan lembaga survei. Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengungkap nama keempat tokoh tersebut, yakni Menko Polhukam Wiranto, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Kepala BIN Budi Gunawan, dan Staf Khusus Presiden Bidang Intelijen Gories Mere.
Peneliti pertahanan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Muhammad Haripin, pun menganalisis rencana pembunuhan tersebut. Menurut Haripin, Presiden Joko Widodo tidak termasuk dalam target rencana pembunuhan itu lantaran pelaku kesulitan menembus Paspampres.
Sedangkan keempat pejabat tersebut ditarget karena posisi mereka yang strategis di pemerintahan. Posisi Budi sebagai Kepala BIN misalnya, tentu sangat vital bagi Indonesia.
"Ada teori yang bilang intelijen itu garis pertama dari pertahanan. Jadi kalau ngejebol suatu negara dengan perang atau invasi, yang pertama dijebol dulu ya intelijen," tutur Haripin dilansir BBC Indonesia pada Rabu (29/5). "Misalkan Pak BG 'kejadian', berarti rezim Jokowi (tinggal) beberapa langkah lagi menuju situasi kekacauan."
Tak hanya posisi jabatan para target, Haripin juga menyoroti kemungkinan adanya konflik di tubuh TNI. Pasalnya, Luhut dan Wiranto diketahui merupakan purnawirawan TNI.
Haripin menyoroti pertikaian Wiranto dan Luhut dengan para purnawirawan TNI lain. Misalnya Wiranto yang pernah terlibat pertikaian dengan Kivlan Zen yang juga merupakan purnawirawan TNI. Haripin juga menduga ada persaingan antara Luhut dengan eks Danjen Kopassus Mayjen (Purn) Soenarko yang terlibat dalam kasus penyelundupan senjata api ilegal.
Menurut Haripin, masih banyak purnawirawan TNI yang menduduki posisi strategis di pemerintahan atau perusahaan. Latar belakang para purnawirawan TNI sebagai prajurit di Orde Baru pun turut disoroti Haripin.
"Di satu sisi ada kepentingan politik," ungkap Haripin. "Di sisi lain, kalau kita mau agak positif, mereka mempunyai romantisme ideologi masa lalu, terkait dwifungsi ABRI."
(wk/Bert)