Gagasan mengundang maskapai asing membuka rute domestik di Indonesia diprotes sejumlah maskapai nasional, di antaranya PT Sriwijaya Air dan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.
- Bertilia Puteri
- Sabtu, 08 Juni 2019 - 11:25 WIB
WowKeren - Presiden Joko Widodo diketahui memberi opsi untuk mengundang maskapai asing membuka rute domestik di Indonesia. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing penerbangan domestik yang akan berdampak pada harga tiket.
Gagasan tersebut rupanya menuai protes dari sejumlah maskapai nasional. Salah satunya adalah PT Sriwijaya Air yang mengoperasikan maskapai Sriwijaya Air dan NAM Air.
Menurut Direktur Utama Sriwijaya Air, Joseph Adrian Saul, gagasan tersebut berpotensi mengubah iklim pasar saat ini. Ia juga menyebut bukan tidak mungkin memasukkan maskapai asing ke pasar penerbangan dalam negeri dapat membunuh maskapai nasional.
Pasalnya, maskapai nasional saat ini masih jatuh bangun mempertahankan bisnisnya. Bahkan jumlah pemain di industri penerbangan domestik menurun drastis, dari yang tadinya ada 30 maskapai beberapa tahun lalu, kini tinggal 10 maskapai yang bertahan.
"Yang saya khawatirkan adalah bisa merusak pasar penerbangan domestik yang kemudian setelah itu ditinggalkan," tutur Joseph dilansir CNN Indonesia, Jumat (7/6). Selain itu, gagasan tersebut juga dinilainya menyudutkan maskapai nasional yang seolah-olah dijadikan biang kerok tingginya tarif pesawat.
Joseph pun menjelaskan bahwa maskapai nasional memang perlu melakukan penyesuaian harga untuk bertahan hidup. Ia mengklaim kenaikan harga dilakukan secara bertahap dan sudah sesuai dengan sistem travel online.
"Penerbangan dianggap menjadi satu-satunya penyebab industri pariwisata menurun, tapi di pihak lain, saya tidak dengar industri perhotelan membantu mendorong pariwisata," ujar Joseph. "Toh, peak season Lebaran harga hotel juga mahal sekali."
Menurut Joseph, daripada berusaha untuk menurunkan tarif pesawat, lebih baik daya beli masyarakat yang berusaha ditingkatkan. "Airlines sudah beroperasi sangat efisien, yang perlu ditingkatkan ya daya beli masyarakat," jelas Joseph.
Hal senada juga diungkapkan oleh PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Meski mengaku percaya diri dalam menghadapi persaingan dengan maskapai asing, BUMN tersebut menunjukkan kekhawatirannya terhadap bisnis maskapai nasional.
Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia, Ikhsan Rosan, menegaskan bahwa apabila gagasan tersebut diterapkan, maka pemerintah harus memberi ruang dan aturan yang sama kepada maskapai asing. Apabila tidak dilakukan, maka kelangsungan bisnis maskapai nasional bisa terancam.
"Jangan sampai mengistimewakan maskapai asing," tegas Rosan. "Di Indonesia sudah ada 24 maskapai penerbangan nasional yang bangkrut akibat persaingan yang tidak sehat. Mudah-mudahan jangan ada lagi."
(wk/Bert)