Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Ignasius Jonan pastikan Indonesia tidak akan lakukan impor gas. Dengan alasan cadangan gas yang ada di Indonesia sudah memadai.
- Wahyu
- Kamis, 01 Agustus 2019 - 14:59 WIB
WowKeren - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan memastikan Indonesia tak akan mengimpor gas. Menurutnya cadangan gas yang ada di Indonesia sudah memadai sehingga tak memerlukan impor.
"Kita tidak akan pernah impor gas," kata Jonan saat dijumpai setelah acara Gas Indonesia Summit Exhibition 2019, Rabu (31/7). Mantan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia itu menyebutkan jika pengembangan proyek lapangan gas terus dikebut.
Kementerian ESDM pernah memproyeksikan pada tahun 2025-2027 kebutuhan gas lebih besar daripada pasokannya atau defisit, namun hal tersebut segera diralat oleh Jonan. Menurut Jonan, proyeksi saat itu belum mempertimbangkan adanya potensi pasokan gas dari penemuan cadangan baru dan kontrak gas di masa mendatang seperti blok Masela dan blok East Natuna. "Proyeksi neraca gas itu dibikinnya dulu waktu belum ditemukan banyak cadangan baru itu," kata Jonan.
Meski tidak mengimpor gas berupa LNG, sampai saat ini Indonesia masih melakukan impor LPG. Hal ini dikarenakan karakteristik gas dihasilkan Indonesia tidak serta merta bisa dikonversi menjadi LPG.
Berbicara mengenai temuan gas, terdapat blok Sakakemang yang menjadi salah satu temuan migas terbesar di dunia selama periode 2018-2019. Hal ini terbukti dengan jumlah gas bumi yang mencapai sekitar 2 triliun kaki kubik (tcf). Penemuan repsol ini juga menjadi penemuan yang terbesar di Indonesia selama 18 tahun terakhir.
RI juga baru saja menyetujui proyek pengembangan LNG blok Masela yang sebelumnya macet selama 20 tahun. "Masela dengan 18,5 trillion Cubic feet (Tcf) memiliki kadar CO2 yang sangat rendah. Kita juga mendorong Repsol dan kontraktor lainnya untuk eksplorasi di on dan off-shore," tambah Jonan.
Di Banyuasin, Sumatera Selatan juga terdapat blok gas terbesar ketiga di Indonesia yang disebut blok Corridor. Pengelolaan blok tersebut akan dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) pada tahun 2026 hingga kontrak berakhir pada tahun 2043.
Pertamina telah mencatat bahwa blok Corridor tersebut memiliki cadangan gas nomor tiga terbesar di Indonesia dimana produksi gasnya berkontribusi hingga 17 persen dari total produk gas nasional.
(wk/wahy)