Polisi Tetapkan Tersangka Grup WhatsApp STM 'Hasil Rekayasa'
Instagram/divisihumaspolri
Nasional

Screenshot percakapan yang mengindikasikan anak STM sebagai demonstran bayaran sempat meramaikan dunia maya. Namun warganet menyebut grup WA tersebut hanya rekayasa kepolisian belaka.

WowKeren - Jagad maya sempat dibuat heboh dengan beredarnya tangkapan layar percakapan grup WhatsApp siswa STM. Pasalnya dalam percakapan tersebut terindikasi bahwa siswa-siswa STM yang mengikuti aksi merupakan demonstran bayaran.

Namun belakangan keaslian percakapan itu dipertanyakan usai seorang warganet membongkar hasil pelacakannya. Menggunakan aplikasi pelacak nomor telepon Truecaller atau Get Contact, warganet menemukan bahwa nomor dalam percakapan tersebut merupakan milik polisi.

Tak pelak hal ini membuat masyarakat berbalik "menyerang" kepolisian lantaran diduga sengaja membuat hoaks. Menanggapi hal tersebut, polisi pun langsung melakukan penyelidikan mendalam demi menemukan pihak yang bertanggung jawab.

Hari ini, kasus itu pun menemui titik terang. Dilansir dari Detik News, polisi dikabarkan telah menangkap kreator grup tersebut. Hingga berita ini ditulis, pelaku disebut masih diperiksa intensif oleh aparat.

"Kreator pembuat WAG STM/K bersatu sudah kami tangkap," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo, Rabu (2/10). "Pukul 22.30 WIB tadi malam (1/10)."


Belum ada informasi detail mengenai sosok-sosok pelaku di balik grup WhatsApp tersebut. Namun, sebelumnya, polisi mengaku telah menetapkan empat tersangka terkait kasus tersebut.

"Sudah diprofiling dan identifikasi akun-akunnya oleh siber," ujar Dedi, Selasa (1/10). "Sudah ada empat tersangka, tapi nanti setelah ditangkap (baru) disampaikan."

Menurut Dedi, kasus ini merupakan bentuk propaganda. Pasalnya ada pihak-pihak yang sengaja membuat narasi provokatif untuk memojokkan kepolisian. Ia pun membandingkan kasus ini dengan kasus tujuh kontainer surat suara tercoblos yang sempat ramai pada masa Pemilihan Presiden (Pilpres) lalu.

"Nah ini, jadi kita paham betul apa yang ada di media sosial itu," tutur Dedi, dikutip dari Liputan 6. "Karena sebagian besar adalah anonymous, narasi-narasi yang dibangun adalah narasi propaganda."

"Tentunya dari Direktorat Siber Bareskrim Polri sudah memprofiling," imbuhnya. "Belum bisa dipastikan kalau itu anggota polisi pun kan belum bisa dipastikan betul anggota atau bukan."

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait