Kerusuhan di Wamena menyisakan banyak kisah tragis yang dialami oleh para korban. Salah satu warga baru-baru ini menceritakan bagaimana dirinya berhasil meloloskan diri dari maut.
- Wahyu
- Rabu, 02 Oktober 2019 - 10:33 WIB
WowKeren - Kerusuhan yang terjadi Wamena, Papua pada Senin (23/9) lalu telah menyisakan begitu banyak kisah tragis yang dialami oleh para korban. Banyak warga yang harus kehilangan anggota keluarganya atas aksi biadab yang dilakukan oleh sejumlah perusuh ini.
Kerusuhan di Wamena, Papua diawali dengan unjuk rasa dari sejumlah warga Papua. Aksi unjuk rasa ini berakhir dengan ricuh setelah ada sejumlah massa yang bertindak anarkis hingga menyebabkan kerusuhan di sekitar lokasi tersebut. Massa mengamuk dengan membakar rumah warga, kantor pemerintah, PLN dan beberapa kios usaha masyarakat.
Kerusuhan ini telah membuat puluhan nyawa melayang akibat perilaku kejam dan tidak beradab dari para demonstran dalam aksi berdarah tersebut. Hingga kini tercatat kerusuhan Wamena telah menewaskan sebanyak 33 orang. Mayoritas korban tewas diketahui berasal dari warga Papua pendatang.
Salah satu korban dari kerusuhan tersebut yaitu Erizal (42) menceritakan bagaimana dirinya berhasil meloloskan diri dari amukan massa. Erizal sendiri merupakan seorang perantau Minang dari Sungai Rampan, Koto Nan Tigo IV Koto Hilie, Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.
Walau berhasil lolos, dirinya harus menanggung duka yang mendalam setelah istri dan kedua anaknya meninggal dalam insiden kerusuhan tersebut. "Alhamdulillah saya berhasil selamat dari peristiwa waktu itu, namun sayang anak dan istri saya meninggal dunia," ujar Erizal.
Erizal menceritakan saat terjadi kerusuhan, dirinya bersama dengan keluarganya sedang berada di sebuah kios yang menjadi tempatnya bekerja. Sejumlah massa kemudian mendatangi beberapa kios di sekitar lokasi tersebut termasuk kiosnya.
Massa yang berjumlah 30 orang tersebut mengepung kios-kios tersebut sehingga menyebabkan Erizal panik. Erizal lantas berusaha menyelamatkan diri bersama keluarganya namun mereka telah terkepung di dalam rumah yang berada di belakang kios tersebut.
Kerumunan massa tersebut lantas berusaha memaksa membuka pintu dan melakukan aksi biadabnya. Erizal mengatakan jika keponakannya yang bernama Yoga berusaha menahan pintu namun gagal. Yoga bersama dengan anak dan istri Erizal pun meninggal dunia setelah ditikam dengan parang oleh para perusuh.
"Jumlah mereka sekitar 30-an orang dan kami sama sekali tidak mengenal mereka," cerita Erizal. "Salah seorang kemenakan saya yang bernama Yoga mencoba menahan pintu, namun mereka berhasil mendobraknya, sehingga kami dilempari, ditembaki dengan panah dan kami semua sudah pasrah mati."
Erizal mengatakan jika dirinya berhasil menyelamatkan diri dari para perusuh setelah berpura-pura mati dan menahan rasa sakit akibat terkena luka bakar. Erizal pun langsung pergi setelah perusuh itu pergi dan menunggu bantuan sehingga dirinya langsung dibawa ke rumah sakit.
"Karena setelah kami ditikam, rumah itu dibakar namun saya cepat bangkit dan menyelamatkan diri tapi tetap saja kepala dan tangan saya terbakar," jelas Erizal. "Dua jam setelah itu barulah bantuan datang, saya langsung dibawa ke rumah sakit diobati pihak medis karena mengalami luka bakar di beberapa badan saya."
Erizal bercerita jika dirinya sudah enam tahun merantau di Wamena dan berdagang demi menafkahi keluarga dan menyekolahkan kedua anaknya. Selama ini dirinya juga mengaku hubungannya dengan penduduk asli Papua selalu baik-baik saja dan tidak pernah ada konflik.
(wk/wahy)