Veronica Koman mengungkapkan sejumlah ancaman yang didapatnya dalam sebuah wawancara ekskulsif dengan media Australia. Hal ini lantas dikomentari oleh pengamat politik Asia Tenggara, Aaron Connelly.
- Bertilia Puteri
- Jumat, 04 Oktober 2019 - 15:07 WIB
WowKeren - Tersangka provokasi dan penyebaran berita bohong dalam insiden Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya, Veronica Koman, telah mengungkapkan sejumlah ancaman dan intimidasi yang didapatnya. Dalam wawancara eksklusif di media Australia, SBS News, Veronica mengaku mendapat intimidasi berupa ancaman pembunuhan hingga ancaman pemerkosaan.
"Saya sudah diancam dibunuh sejak dua tahun lalu," ungkap Veronica Koman dalam wawancara yang disiarkan pada Kamis (3/10) tersebut. "Saat ini ancaman itu jadi pengalaman sehari-sehari. Ancaman dibunuh hingga pemerkosaan."
Pengakuan Veronica mengenai ancaman yang didapatnya ini lantas dikomentari oleh pengamat politik Asia Tenggara, Aaron Connelly. Lewat akun Twitter pribadinya, Conelly mengutip video wawancara Veronica.
"Ancaman pembunuhan kepada Veronica Koman harus ditanggapi secara serius," cuit Connelly pada Kamis (3/10). "Mengingat bidang pekerjaan Veronica yang sensitif dan juga kenyataan bahwa pihak yang memerintahkan pembunuhan Munir telah diberdayakan oleh pemerintahan saat ini."
Cuitan Connelly ini lantas dibanjiri komentar warganet. Ada sebagian yang mendukung Veronica, namun ada pula yang meminta agar Veronica segera diadili lantaran ia dinilai mendukung separatisme.
"Kamu harus memeriksa dari kedua sisi, beberapa hal yang dikatakan Veronica memang benar, tapi banyak yang merupakan kebohongan. Keluargaku di Papua kini berada dalam situasi berbahaya, bukan karena pemerintah, tapi karena Veronica menyebar kebohongan dan memprovokasi sentimen rasis," komentar akun @he***lo. "Veronica Koman, pulang aja ci. Sini bicara baik2 sm pak Jokowi. Ngapain jg byk berkoar di luar. Beresin sini bareng2. Klo anda benar pasti berani dong balik sini," timpal akun @oe***2. "Aku bangga dengan saudariku Veronica Koman yang terus menyuarakan isu 'pelanggaran HAM' yang terjadi di Tanah Papua. Semoga Tuhan terus menyertai saudari dengan keagungannya," tambah akun @ky***nu.
Sementara itu, Veronica sendiri telah dimasukkan dalam daftar pencarian orang (DPO) oleh Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim). Status DPO Veronica diberikan usai aktivis tersebut mangkir selama dua kali saat dilakukan pemanggilan untuk penyelidikan lebih lanjut.
Veronica Koman mengatakan jika selama ini telah banyak ancaman pembunuhan yang diarahkan pada penyampai pesan dan informasi yang membahas mengenai konflik di Papua. Padahal menurut pengakuan Veronica, selama ini tak ada pihak yang bisa membantah tentang kebenaran yang telah disampaikan atas informasinya tersebut.
"Mereka mencoba membunuh penyampai pesan. Mereka tidak bisa menyangkal data saya (tentang Papua)," ujar Veronica. "Mereka tak bisa membantah sehingga mereka berusaha menghancurkan kredibilitas saya."
(wk/Bert)