Penggusuran yang dilakukan Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok membuat ratusan warga Kampung Akuarium terdampak. Bahkan mereka harus berjuang bertahan hidup dengan tinggal di rumah bedeng dan tenda di tengah puing bangunan.
- Nidya Putri
- Kamis, 10 Oktober 2019 - 08:49 WIB
WowKeren - Genap 3 tahun sudah Kampung Akuarium, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara digusur oleh pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Kala itu penggusuran dipimpin oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pada 11 April 2016.
Akibat penggusuran yang dilakukan pemerintah tersebut, kira-kira ada ratusan warga yang terdampak. Mulanya penataan kawasan tersebut akan disesuaikan dengan rencana induk penataan kawasan Kota Tua yang diatur dalam Peraturan Gubernur Nomor 36 Tahun 2014. Kampung Akuarium akan terintegrasi dengan Museum Bahari dan Masjid Luar Batang.
Namun, karena adanya penemuan cagar budaya di lokasi tersebut membuat eksekusi penataan kawasan menjadi lama. Sehingga kampung yang sudah rata dengan tanah itu dibiarkan begitu saja.Hingga akhirnya, warga lama Kampung Akuarium kembali datang untuk membangun rumah bedeng dan tenda di lahan kosong tersebut. Salah satunya seperti Dharma Diani. "Setelah digusur jelas nge-drop tinggal di bedeng," kata Dharma dilansir Kompas, Rabu (9/10).
Dharma pun menceritakan kisah perjuangan warga Kampung Akuarium yang harus bertahan hidup tanpa aliran air bersih, sanitasi, dan listrik. Padahal sebelumnya hidup Dharma sangat berkecukupan.
Ia menceritakan bahwa rumahnya yang digusur adalah rumah bertingkat di mana lantai dasarnya dijadikan sebagai warung tempat menjual sembako, gas dan lain-lain. Ia juga memiliki beberapa kontrakan untuk disewakan kepada warga yang ingin mengontrak di perkampungan pinggir laut tersebut.
Lebih lanjut, ia juga menceritakan bagaimana stres dan depresinya warga hidup di bawah tenda dan bedeng. Belum lagi banyak di antara mereka yang harus kehilangan pekerjaan. "Jadi banyak yang tekena penyakit darah tinggi, TBC, apa segala macam. Dokter bilang itu karena stres," ujarnya.
Bahkan ada juga warga yang meninggal akibat sakit selama tinggal di bedeng dan tenda. Untungnya kondisi menyedihkan tersebut berubah ketika Gubernur DKI Jakarta yang sekarang Anies Baswedan menjabat.
Dharma menceritakan bahwa Anies telah membangun 90 selter dari Januari dan siap ditempati pada Maret 2018. Selter memiliki luas 3,5x 6,5 meter persegi dan dibangun berbahan dasar tripleks pada bagian dinding, sedangkan tiang dan atap rumah menggunakan baja ringan. Langit-langit rumah dilapisi dengan bahan penyerap panas.
Tak hanya itu, Pemprov DKI pun membangun 16 pintu toilet untuk satu blok, 8 toilet untuk laki-laki, dan 8 toilet untuk perempuan. Meski berbanding jauh dengan rumah yang dimiliki oleh Dharma sebelumnya, tapi akhirnya dia dan keluarga sudah bisa merasakan tinggal di tempat yang lebih layak.
"Kalau dibandingkan Selter ini paling fasilitasnya 50 persen dari rumah lama saya," tutup Dharma. "Dulu saja rumah saya pakai AC. Tapi kalau bedeng jauhlah"
(wk/nidy)