ABD Soroti 'Lingkaran Setan' Kemiskinan RI: 22 Juta Orang Menderita Kelaparan di Era Jokowi
Nasional

Dalam riset yang dilakukan oleh Asian Development Bank bersama International Food Policy Research Institute (IFPRI) tercatat bahwa akses ketahanan pangan di Indonesia masih belum sepenuhnya merata.

WowKeren - ADB (Asian Development Bank) telah mengeluarkan sebuah publikasi bertajuk 'Policies to Support Investment Requirements of Indonesia's Food and Agriculture Development During 2020-2045'. Riset tersebut merupakan kerja sama dengan International Food Policy Research Institute (IFPRI) didukung Kementerian Bappenas.

Riset tersebut menyoroti kondisi perekonomian di Indonesia. Tercatat, sektor pertanian di Indonesia telah berkembang menuju ke arah yang lebih baik selama beberapa tahun terakhir.

"Pertumbuhan yang kuat telah mendorong transformasi struktural dan membentuk kembali ekonomi agraria," bunyi executive summary dari riset tersebut seperti dilansir dari CNBC Indonesia, Rabu (6/11). "Dengan peran dominan sekarang dimainkan oleh industri dan jasa."


Meski ekonomi agraria dikatakan membaik, namun hasil riset juga menunjukkan bahwa masih banyak orang yang terjebak dalam pertanian tradisional. Pertanian semacam ini membuat para petani mendapat bayaran yang rendah dan kurang produktif.

Akibatnya, hal itu berbuntut menyumbang angka kemiskinan di Indonesia. Penghasilan yang rendah membuat mereka tak bisa lepas dari lingkaran kemiskinan selama beberapa generasi. Sepanjang 2016-2018, tercatat ada 22 juta masyarakat miskin yang masih menderita kelaparan.

"Banyak dari mereka tidak mendapatkan makanan yang cukup dan anak-anak mereka cenderung stunting," lanjut laporan tersebut. "Membuat mereka dalam lingkaran setan kemiskinan selama beberapa generasi. Pada 2016-2018, sekitar 22,0 juta orang di Indonesia masih menderita kelaparan."

Tak hanya itu, riset tersebut juga menyoroti ketahanan pangan yang kurang merata di seluruh Indonesia. Indonesia menempati urutan ke-65 di antara 113 negara dalam Indeks Keamanan Pangan Global (GFSI) yang diterbitkan oleh EIU (Economist Intelligence Unit). "Akses untuk mendapatkan makanan di Indonesia cukup rendah," tulis laporan tersebut lagi.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait