PISA Beberkan 41 Persen Siswa Indonesia Korban Bully, Begini Respons Komisi X DPR
Nasional

Begini respons Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terkait hasil survei PISA yang menyebutkan jika sebanyak 41 persen siswa di Indonesia mengalami perundungan.

WowKeren - Program for International Student Assessment (PISA) telah membeberkan hasil survei mereka terhadap kasus perundungan atau bully yang dialami murid-murid di Indonesia. Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) lantas angkat berbicara mengenai hasil riset PISA tersebut.

Sebelumnya PISA merilis data yang menyebutkan jika sebanyak 41 persen siswa di Indonesia sudah menjadi korban bully. Tak hanya itu, PISA juga membeberkan data sebesar 17 persen murid Tanah Air mengalami kesepian.

Wakil Ketua Komisi X DPR Abdul Fikri Faqih lantas mengatakan jika hasil survei PISA tersebut masih perlu diteliti lebih lanjut lagi demi mengetahui penyebabnya. Abdul lantas menekankan pentingnya pendidikan karakter terhadap anak yang harus diajarkan orangtua sejak dini.

"Ini perlu diteliti lebih lanjut. 41 persen itu sebabnya apa?," kata Abdul Fikri Faqih seperti dilansir dari Detik, Rabu (4/12). "Kalau dari kakak kelas, berarti pelajaran moral orang (lebih) tua atau yang tua menyayangi yang muda tidak ada. Ini kembali ke pendidikan karakter."


Lebih lanjut Abdul menjelaskan jika mungkin banyak masyarakat yang seolah menganggap tidak terjadi apa-apa terhadap para siswa di Indonesia. Namun setelah siswa ditanya lebih dalam, ternyata diketahui jika siswa tersebut pernah menjadi korban perundungan.

"Kita mungkin merasa tidak (terjadi) apa-apa," ungkap Abdul. "Tapi pas ditanya suasa kebatinan 41 persen di-bully, 17 persen kesepian. Itu kan setelah ditanya."

Oleh sebab itu, Abdul meminta agar Pemerintah Indonesia dapat menggunakan survei PISA ini sebagai metode untuk mengoreksi dan mengevaluasi sistem pendidikan di Tanah Air saat ini. Abdul menegaskan jika tugas utama para siswa adalah belajar. Maka aksi-aksi perundungan ini harus ditanggapi dengan serius demi membuat para siswa tetap semangat dalam menimba ilmu di sekolah.

"Itu saya kira pentingnya survei jadi alat koreksi dan evaluasi. Kalau kesepian harus bangkitkan kegairahan. Kegairahan mereka sekolah bersemangat," tegas Abdul. "Kalau di-bully ini perlu tidak lanjut, ini dari siapa, dari kakak kelas, atau bagaimana. Suasana belajar kan suasa kekeluargaan, familier, kalau tidak kan materi pelajaran tidak masuk."

(wk/lian)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait