Kehadiran sejumlah kobra di pemukiman warga juga turut dianalisa oleh Panji yang membenarkan kalau Desember adalah musim ular menetas. Ia juga memberi saran mengatasi gigitan ular.
- Ria Susilo Wardhani
- Kamis, 19 Desember 2019 - 14:02 WIB
WowKeren - Belakangan, sejumlah ular kobra bermunculan di beberapa wilayah di Tanah Air. Semenjak diguyur hujan, wilayah seperti Jember, Depok, Jakarta Timur bahkan luar Jawa tampak dipenuhi ular kobra.
Yang paling jadi sorotan yakni penemuan 30 cangkang telur ular kobra yang sudah menetas di Perumahan Springville Residence, Jalan Baru Underpass, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat.
Dikutip dari IDN Times, Eksekutor Rescue Pemadam Kebakaran Kota Bekasi Eko Uban mengungkapkan dua hari sebelum ditemukan 30 cangkang telur ular kobra, ada seorang petugas kebersihan yang kesurupan. Petugas itu mengalami kesurupan setelah tak sengaja membunuh ular kobra.
"Petugas gak tahu kalau ada ular, saat itu dia masih membersihkan rumput dengan mesin pemotong, kemudian gak sengaja ular tersebut terbunuh," kata Eko. "Jadi percaya gak percaya, petugas itu kesurupan, kemudian ngomong kalau mau mindahin dengan baik jangan sampai membunuh anak-anak ular itu."
Dua hari setelahnya, ditemukan 30 cangkang telur ular kobra. "Jadi satu minggu sebelum menetas induk ular tersebut pergi meninggalkan telur-telurnya, sehingga saat menetas anak-anak ular akan survive sendiri. Bulan ini memang banyak telur ular kobra yang menetas, selain itu ramainya ular kobra juga karena gencarnya pembangunan, jadi merusak habitat mereka," seru Eko.
Sementara itu, Muhammad Panji alias Panji Petualang yang biasa berurusan dengan ular ikutan angkat bicara. Ia mengungkap kalau ular kobra yang datang ke pemukiman bukan jenis king kobra.
"Lagi heboh sekarang, katanya sekarang banyak king kobra bertelur, itu bener enggak sih Ji?" tanya Melaney Ricardo. "Sebetulnya bukan king kobra tapi kobra biasa," kata Panji. "Betul lagi bertelur banyak sampai ke pemukiman?" tanya Melaney. "Betul. Kerusakan habitat membuat mereka tidak bisa lagi menemukan habitat aslinya. Sebetulnya kobra itu habitatnya memang berdekatan dengan manusia. Sedari dulu memang sering ditemukan di persawahan," seru Panji.
"Tapi kan seriring berjalannya waktu, sawah itu dijadikan rumah, tempat industri, jalanan, dan hal itu membuat mereka (ular) tersingkir," lanjutnya. "Bulan menetas Desember-Januari, kalau bertelurnya ular itu di bulan Juli."
Ia juga berbagi tips bila digigit ular. Panji menyarankan agar korban digips atau dibidai agar racun tak menyebar.
"Ada metode sebenarnya secara medis yang dianjurkan adalah imobilisasi. Itu WHO yang ngasih sarannya. Metode diisap itu tidak boleh dilakukan. Bukan diikat, tapi dibidai atau digip. Semakin banyak gerak, akan semakin membuat bisa (racun) menyebar," seru Panji. "Pada dasarnya, bisa ular menjalar bukan dari darah, tapi melalui kelenjar getah bening. Sedangkan kelenjar getah bening bukan ada di pembuluh darah, tapi ada di bawah otot. Semakin otot banyak bergerak, semakin racun bergerak juga."
(wk/riaw)