Komisi Energi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menilai sangat wajar jika Presiden Joko Widodo ingin berkata-kata kasar terkait mahalnya harga gas saat ini.
- Ruth Meliana
- Selasa, 07 Januari 2020 - 11:13 WIB
WowKeren - Presiden Joko Widodo baru-baru ini menyoroti mahalnya harga gas saat ini. Bahkan, saking mahalnya harga gas, Presiden Jokowi mengaku sampai nyaris ingin mengatakan sesuatu yang kasar.
Komisi Energi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menilai jika reaksi Jokowi sangatlah wajar. Terlebih, saat ini Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan gas yang melimpah sehingga disayangkan jika harga gas masih membebani sejumlah perekonomian industri.
"Saya kira sangat wajar ya (sikap Jokowi) karena bagaimanapun juga kita sebagai negara yang punya kekayaan gas melimpah," kata Wakil Ketua Komisi VII DPR yang membidangi energi, Eddy Soeparno saat dihubungi, Selasa (7/1). "Itu sesungguhnya bisa mengontrol harga gas ke tingkat keekonomian yang tidak membebani industri."
Mahalnya gas disebutkan Eddy terjadi karena sejumlah faktor. Salah satu faktor yang paling mempengaruhi mahalnya gas adalah ketersediaan pasokan gas untuk ke depan yang sudah mulai berkurang.
"Tetapi sekarang ini memang dari hasil pemaparan diberikan oleh para pelaku industri ke Komisi VII memang di sana keluhannya adalah ketersediaan pasokan gas," jelas Eddy. "Karena sekarang ketersediaan pasokan gas pasca 2021 itu masih menjadi tanda tanya, jadi beberapa pelaku industri terpaksa harus beli gas yang mahal."
Oleh karena itu, Eddy menyimpulkan jika saat ini Indonesia memiliki dua permasalahan di sektor ini, yakni terkait harga gas yang mahal dan ketersediaan pasokan gas. "Sekarang permasalahannya itu ada 2, satu di harga gas yang mahal, kedua ketersediaan pasokan ke depannya," ujar Eddy.
Eddy lantas mendesak agar Pemerintah Indonesia segera melakukan terobosan untuk mengatasi permasalahan harga gas yang mahal. Sekjen Partai Amanat Nasional (PAN) ini lantas memberikan sejumlah solusi untuk mengatasi lonjakan harga gas.
Memang kelihatannya perlu ada terobosan, terobosan itu ya seperti halnya minyak mungkin ada perlu DMO (Domestic Market Obligation) untuk gas," saran Eddy. "Jadi ada penjualan wajib ke pasar domestik."
"Selama ini kan gasnya banyak didedikasikan untuk ekspor, sementara di dalam negeri pasokannya kurang," sambungnya. "Jadi saya kira kalau adanya DMO itu yang jelas masalah pasokan gas itu bisa teratasi. Secara otomatis namanya hukum permintaan dan ketersediaan itu otomatis kan harga juga terevisi."
(wk/lian)