Waketum Partai Demokrat Syarief Hasan membandingkan polemik klaim Tiongkok dengan kasus perebutan blok Ambalat pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
- Zodiak Yanuarita
- Selasa, 07 Januari 2020 - 19:40 WIB
WowKeren - Partai Demokrat membandingkan polemik perairan Natuna yang diklaim Tiongkok dengan kasus blok Ambalat. Blok Ambalat merupakan perbatasan RI dan Malaysia yang sempat diperebutkan pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Waketum Partai Demokrat Syarief Hasan mengatakan bahwa kala itu SBY sebagai presiden menunjukkan sikap yang tegas. Sebab jika itu menyangkut kedaulatan RI maka tidak ada yang namanya kompromi.
"Kasus Natuna ini mengingatkan saya terhadap kasus Ambalat ya, tahun 2005-2006 ya, di mana pada saat itu Pak SBY sangat tegas ya," kata Syarief di Senayan, Jakarta, Selasa (7/1). "Bahwa kalau menyangkut kedaulatan NKRI maka tidak ada istilah kompromi, maka mereka semua keluar dari teritorial kedaulatan NKRI."
Terkait kasus perseteruan Natuna, Syarief mendukung pemerintah untuk bersikap tegas terhadap Tiongkok. Syarief pun mencontohkan manuver SBY saat menangani persoalan Ambalat dengan terjun langsung ke lokasi yang menjadi sengketa untuk berbicara dengan pihak Malaysia.
"Ternyata Pak SBY berhasil, bahkan Pak SBY dulu pernah di kapal perang berhadapan dengan perbatasan Malaysia," tutur Syarief. "Waktu itu 'kalau mau perang, ayo perang', pada saat itu. Tapi respons Malaysia pada saat itu dan kita juga ingin supaya menyelesaikan memulai diplomatik."
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo alias Jokowi memberikan pernyataan tegas terkait Natuna. Syarief pun mengapresiasi hal ini.
"Kali ini saya pikir penyelesaian itu tentang pelanggaran itu harus direspons oleh China," terang Syarief. "Bagaimanapun juga jadi saya memberikan penghargaan dan respect sekali kepada pemerintah Indonesia di dalam menjaga kedaulatan RI."
Selama ini, Tiongkok merupakan salah satu investor terbesar di Indonesia. Namun meski demikian, bukan berarti hal itu bisa berdampak pada sikap Indonesia.
"Toh China-nya merupakan investor ketiga di Indonesia ya kan, dan juga China pasti membutuhkan Indonesia, sangat membutuhkan Indonesia," tutur Syarief. "Jadi tidak perlu khawatir dengan implikasinya terhadap ekonomi Indonesia
(wk/zodi)