Imbas USBN Dihapus, Pengamat Khawatir Soal Cuma Copy-Paste
Nasional

Penghapusan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (USBN) berimbas pada pembuatan soal ujian yang wewenangnya diserahkan pada pihak sekolah masing-masing.

WowKeren - Penghapusan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (USBN) melalui pencabutan Prosedur Operasional Standar (POS) pelaksanaan USBN menuai respons positif. Meski demikian, ada kekhawatiran yang menyertainya.

Diketahui, penghapusan USBN berimbas pada pembuatan soal ujian yang menjadi wewenang pihak sekolah masing-masing. Dengan dihapuskannya USBN maka dikhawatirkan adanya kemunculan soal ujian versi sekolah yang bersifat plagiasi.

Kekhawatiran tersebut disampaikan oleh Pengamat Pendidikan Andreas Tambah dari Komnas Pendidikan. Pihak sekolah bisa saja melakukan plagiasi dari bank-bank soal yang ada. Potensi ini muncul mengingat kompetensi guru yang berbeda-beda.

Sebelumnya, BNSP memiliki porsi 25 persen dalam pembuatan soal ujian, dan 75 persen lainnya dibuat oleh Dinas Pendidikan Provinsi setempat. "Kalau selama ini guru hanya copy paste atau menggunakan bank soal yang ada, itu yang berbahaya," kata Andreas dilansir CNN Indonesia, Rabu (22/1).


Oleh sebab itu, untuk menghindari risiko semacam itu, perlu dilakukan penyegaran kembali dalam memberikan pelatihan pada para tenaga pendidik yang ada. Tujuannya tentu saja agar mereka bisa menghasilkan soal-soal yang lebih berkualitas.

Kebijakan menghapus USBN boleh-boleh saja dilakukan. Namun, perlu menjadi catatan bahwa hal itu juga harus dibarengi dengan kualitas guru yang sudah mumpuni untuk membuat soal-soal yang bagus. Belum lagi ditambah dengan persoalan belum meratanya tenaga pendidikan yang tersebar di seluruh Indonesia.

"Ada sekolah gurunya satu. Ada sekolah gurunya cuma dua," lanjut Andreas. "Bagaimana bisa membuat soal yang beraneka ragam."

Meski demikian, ia menilai bahwa penghapusan USBN bisa menjadi momentum yang baik bagi sekolah-sekolah di daerah. Pasalnya bisa jadi apa yang diajarkan di sekolah di daerah-daerah tidak sama dengan yang diajarkan di kota-kota besar.

"Mungkin kualitas guru, kualitas buku juga yang dipakai berbeda di kota dan di daerah," papar Andreas. "Sehingga pada saat diberikan kisi-kisi (USBN) yang diterima guru di daerah, (siswa) belum terima sebelumnya (di kelas)."

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts