Tak hanya jumlah nominalnya saja yang ditambah, cakupan jenis pangan juga diperluas. Tak hanya terbatas untuk ditukarkan beras dan telur ayam tapi juga bahan makanan pokok lainnya.
- Zodiak Yanuarita
- Kamis, 23 Januari 2020 - 11:29 WIB
WowKeren - Kabar gembira bagi para peserta penerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Pasalnya, pemerintah memutuskan untuk menaikkan indeks BPNT menjadi sebesar Rp 150.000. Jumlah ini mengalami kenaikan sebesar Rp 40.000 dari yang sebelumnya hanya Rp 110.000 setiap bulannya.
Tak cukup sampai penambahan jumlah nominalnya saja, cakupan bantuan untuk BPNT juga lebih luas. Jika sebelumnya penerima bantuan hanya bisa menukarnya dengan beras dan telur ayam, kini peserta bisa memakainya untuk bahan pangan lokal lain seperti tempe, sagu, dan jagung.
Adapun tujuan pemerintah menerapkan kebijakan yang satu ini masih berkaitan dengan upaya menekan angka stunting di Indonesia. Hal itu sebagaimana disampaikan oleh Menteri Sosial Juliari Batubara. Juliari berharap BPNT bisa membantu masyarakat memenuhi kebutuhan gizi, khususnya bagi anak-anak yang disesuaikan dengan kebutuhan pangan di masing-masing daerah.
"Misalnya di daerah Papua banyak ikan segar dan sukanya sagu," kata Juliari di Jakarta Pusat, Kamis (23/1). "Lalu di Nusa Tenggara Timur populemya jagung atau di Jawa nyamannya tempe dan tahu."
Sementara itu untuk ibu hamil, Juliari mengatakan bahwa bahan pangan tambahan bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan varian gizi. Beberapa jenis makanan tambahan yang dimaksud antara lain sayur, buah-buahan, ikan segar, daging, hingga kacang-kacangan. Makanan tersebut bisa digunakan sebagai makanan pendamping ASI (MPASI).
"Kalau sebelumnya jenis makanannya beras dan telur, (sekarang) ditambah," tutur Juliari. "Tambahannya daging ayam, ikan, dan sayur-sayuran, khususnya kacang-kacangan. Ini juga ada tujuan tertentunya, yaitu juga meng-address permasalahan stunting yang masih cukup tinggi."
Sementara itu terkait penyaluran BPNT, tidak ada perubahan dalam prosedur penyaluran. Bantuan non tunai akan disalurkan melalui e-wallet yang telah bekerja sama dengan empat bank milik pemerintah, yakni Mandiri, BRI, BTN, dan BNI.
"Seperti yang berjalan, tidak ada berubah di distribusinya," jelas Juliari. "Dalam bentuk uang (non-tunai), nanti uang itu kan dibelanjakan di e-warong yang ada di daerah-daerah."
(wk/zodi)