Wakil Ketua Komisi V DPR RI Nurhayati Monoarfa mengusulkan agar Indonesia melakukan karantina kepada Warga Negara Asing (WNA) dari negara terpapar corona saat mereka masuk ke Indonesia.
- Nidya Putri
- Rabu, 04 Maret 2020 - 12:35 WIB
WowKeren - Masuknya virus corona (COVID-19) ke Indonesia tentunya membuat sejumlah pihak menjadi khawatir. Pasalnya, virus yang berasal dari Kota Wuhan, Tiongkok itu menyebar dengan cepat tiap harinya.
Untuk mencegah penyebaran lebih lanjut, Komisi V DPR RI akan menyurati Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk pengetatan pintu masuk Indonesia, baik di bandara maupun pelabuhan. Hal ini berkaca dari kasus 2 warga Depok yang terjangkit virus tersebut karena warga negara Jepang.
Wakil Ketua Komisi V DPR RI Nurhayati Monoarfa mengusulkan agar Indonesia meniru langkah Australia dalam menangkal virus corona. Yaitu dengan cara mengarantina Warga Negara Asing (WNA) dari negara terpapar corona.
“Di Australia, kalau dia lihat ada cap negara yang terkena virus corona, maka orang itu tidak diperiksa, langsung dikarantina selama 2 minggu di bandara,” ujar Nurhayati Monoarfa saat ditemui di Jayapura, Papua, Selasa (3/3).
Menurutnya, langkah tersebut akan jauh lebih efektif diterapkan ketimbang hanya mengandalkan pemeriksaan suhu tubuh di pintu masuk negara. Sebab suhu tubuh penderita corona bisa saja turun saat diperiksa.
“Jadi lebih baik kita juga melakukan prevention seperti itu," kata politisi PPP. "Jadi apabila kita lihat negara yang ada virus corona, kita lebih baik cari aman. Bisa kita contoh, kita kan tidak pernah tahu."
Sementara itu, Anggota Komisi I DPR Fraksi PKB Abdul Kadir Karding mengusulkan untuk melakukan moratorium atau penghentian sementara kunjungan beberapa negara yang gawat corona demi mencegah penularan lebih lanjut.
"Saya punya pikiran agak radikal terhadap antisipasi penyebaran virus corona. Kalau perlu kita moratorium sementara terhadap 10 negara yang potensial," kata Abdul di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (3/3). "Moratorium sementara dengan batas-batas tertentu."
Ia juga meminta agar pemerintah menyediakan crisis centre virus corona tak hanya ada di Jakarta, namun juga ada di setiap kabupaten kota. "Dokternya, pemdanya, polisinya, tentaranya, tokoh-tokoh masyarakatnya yang kira-kira antisipasi semua kejadian dengan melihat kejadian yang ada di Wuhan misalnya," katanya. "Jangan kayak kemarin, panik sebentar, masker dan hand sanitizer habis. Ini kan artinya kita harus betul-betul siap."
(wk/nidy)