Curhatan Warga Jakarta yang Lakukan Tes Virus Corona: Proses Lama Hingga Minim Fasilitas
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Seorang warga DKI Jakarta yang khawatir mengalami batuk dan suhu tinggi membagikan pengalamannya saat melakukan pemeriksaan COVID-19 di salah satu rumah sakit rujukan pemerintah.

WowKeren - Penyebaran virus corona di Ibu Kota kian hari kian meningkat. Hingga Minggu (22/3), pasien positif corona di Jakarta tercatat 307 orang dengan 29 orang meninggal dunia.

Hal ini tentunya membuat warga merasa was-was dan khawatir. Tak sedikit bagi mereka yang memiliki gejala seperti batuk dan suhu tubuh tinggi menjadi was-was dan ingin memeriksakan diri.

Seperti yang dialami oleh Seishya Elzila, perempuan 23 tahun yang sudah 2 minggu mengalami batuk kering dan suhu tubuh yang lumayan tinggi. Ia sempat memeriksakan dirinya ke salah satu rumah sakit swasta di Jakarta.

Namun, keadaan yang tak kunjung membaik membuatnya gusar dan memutuskan untuk melakukan tes virus corona ke salah satu rumah sakit rujukan pemerintah. “Senin (16/3) malam, demamku 39 (derajat Celcius) dan mulai parno, jadi memutuskan tes COVID-19 karena ada sesak napas sedikit,” ungkap Seishya dilansir Kumparan, Senin (23/3).

Pada Selasa (17/3), ia mendatangi RSUD Pasar Minggu sekitar pukul 2 siang. Dari seorang sekuriti, ia menerima informasi bahwa tes COVID-19 hari itu sudah tidak bisa dilakukan karena kuota yang dibatasi.

Sekuriti tersebut mengatakan bahwa dalam sehari rumah sakit hanya menyediakan kuota untuk 150 orang. Namun Seishya bersikeras, hari itu juga ia harus mendapat kepastian mengenai kondisinya.

Ia kemudian mengeluhkan bahwa tak ada ruangan khusus untuk pasien yang ingin memeriksakan diri untuk kasus COVID-19. Semua orang berkerumun di satu ruangan yang sama dengan keluhan penyakit yang berbeda-beda.

Seishya yang sempat ketar-ketir menularkan penyakitnya ke pengunjung lain, akhirnya mendesak petugas resepsionis agar bisa diizinkan melakukan tes. “Aku agak maksa, aku bilang ada sesak, sudah dua minggu, takutnya aku malah jadi spreader,” tuturnya.


Akhirnya ia diminta oleh sang resepsionis langsung menuju ke IGD. Namun, petugas medis sempat menolak memeriksa kondisinya, setelah berhasil membujuk petugas, barulah ia melakukan pemeriksaan tahap awal yaitu tes darah dan rontgen paru-paru.

"Petugas bilang tidak semua bisa uji swab, asumsiku waktu itu mungkin karena rumah sakit terbatas alatnya,” ungkap Seishya. Namun, saat tensinya hendak diukur ia justru harus seruangan dengan seorang ibu yang membawa balita.

Karena dalam keadaan sakit, situasi tersebut membuatnya tak nyaman bila harus berdekatan dengan orang lain. Pasalnya, ia khawatir akan menularkan virus kepada orang lain.

Ia juga harus dihadapkan dengan pelayanan administrasi yang sungguh menyita waktu karena dilakukan secara manual. Setelah urusan administrasi usai, ia dipindahkan ke sebuah ruang isolasi sampai akhirnya dites darah. Saat itu, waktu telah menunjukkan pukul 16.29 WIB.

Dari situlah, Seishya bisa membandingkan bagaimana pelayanan yang ia dapatkan ketika memeriksakan diri ke rumah sakit sebelumnya. “Agak kaget, soalnya di RS swasta itu pelayanannya bagus, alat-alatnya tampak higienis,” imbuhnya.

Usai tes darah, tahap selanjutnya adalah foto rontgen. Petugas mengatakan bahwa hasilnya akan keluar dalam waktu 2 jam, namun ia diharuskan menunggu hingga pukul setengah 10 malam untuk mengetahui hasil pemeriksaan yang ia jalani.

Beruntung hasil dari kedua tes tersebut menunjukkan tidak ada indikasi bahwa Seishya terinfeksi SARS-CoV-2 (virus corona penyebab COVID-19). Ini artinya ia tak perlu melakukan uji swab di esok hari.

Meski hasilnya melegakan, Seishya merasa merasa terusik dengan pelayanan yang diberikan rumah sakit, yang menurutnya tak memuaskan. “Aku enggak menyalahkan dokter, suster atau rumah sakitnya, mungkin mereka capek dengan banyaknya pasien, kan tidak semua juga dengan gejala COVID-19,” pungkasnya.

“Ini sistem dari pusatnya yang harus dibenerin, bagaimana mengatur sistem awal pemeriksaan, perlukah disediakan ruangan khusus, memberikan brief ke rumah sakitnya dari awal, bagaimana administrasinya, alat-alatnya yang lebih higienis disuplai agar memadai,” sambungnya.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts