Terungkap Alasan Korban Jiwa COVID-19 di RI Sangat Tinggi, Hal Sepele Ini Salah Satunya
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Dokter spesialis paru-paru membeberkan 3 alasan mengapa tingkat kematian akibat COVID-19 di Indonesia begitu tinggi. Salah satunya ternyata kebiasaan sehari-hari masyarakat Indonesia.

WowKeren - Hingga Selasa (31/3) kemarin, tercatat ada 1.528 kasus positif COVID-19 di Indonesia. Sebanyak 81 diantaranya telah dinyatakan sembuh, namun 136 lainnya dinyatakan meninggal dunia.

Angka ini jelas tak bisa disepelekan. 136 dari 1.528 kasus berarti setara dengan 8 persen lebih. Presentase kematian yang tinggi ini membuat Indonesia menjadi sorotan internasional, bahkan disebut-sebut tertinggi di Asia Tenggara.


Fenomena itu pun menjadi perhatian tersendiri bagi seorang dokter spesialis paru-paru bernama Jaka Pradipta. Dalam wawancara eksklusifnya bersama Kumparan, Dokter Jaka Pradipta menyebutkan setidaknya beberapa alasan penyebab tingginya angka kematian akibat COVID-19 di Indonesia.

Salah satunya adalah perihal lambatnya diagnosis penyakit pasien. Padahal kunci utama penanganan COVID-19 adalah secepatnya dideteksi untuk kemudian diberi perawatan sekaligus diisolasi.

"Salah satu yang prinsip dalam pengobatan COVID-19 ini adalah semakin cepat seseorang terdiagnosis maka semakin rendah angka kematiannya. Jadi semakin cepat orang tertangani maka kematiannya akan rendah," ujar Jaka, Senin (30/3).

Jaka tak menampik adanya keterbatasan skrining serta pemeriksaan yang memakan waktu sampai 1 minggu. Dan selama masa itu dokter tak bisa memberikan penanganan maksimal karena harus menanti hasil pemeriksaan laboratorium.

"Mudah-mudahan di bulan April ini semua alat datang, apakah itu PCR yang diagnostik, apakah itu rapid test yang lebih baik gitu ya," tuturnya, berharap agar alat-alat pemeriksaan dan skrining bisa segera didistribusikan ke seluruh wilayah Indonesia. "Jadi infonya di bulan-bulan April ini akan banyak alat-alat baru itu yang kita harapkan."

Jaka juga menuding kurangnya fasilitas perawatan untuk pasien sebagai alasan angka kematian akibat COVID-19 terus melonjak tinggi. Jaka menyebut, tak hanya rumah sakit rujukan, bahkan fasilitas kesehatan lain juga sudah dipenuhi pasien-pasien terkait COVID-19, baik yang positif maupun pasien dalam pengawasan (PDP).

"Jadi banyak masyarakat yang enggak kedapatan tempat. Apakah itu di ruang rawat biasa bahkan ICU," terangnya. "Paling mengkhawatirkan adalah ICU pada umumnya tanpa COVID aja di Jakarta kita sangat susah cari ICU."

Namun yang paling disorotinya adalah kebiasaan masyarakat untuk berkumpul kendati sudah diimbau untuk saling menjaga jarak. Ditambah dengan gaya hidup masyarakat Indonesia yang memicu penyakit seperti merokok dapat membuat "serangan" virus Corona di dalam tubuh mengganas.

"Seperti diketahui rokok, lifestyle adalah salah satu faktor komorbid yang akan memperberat penyakit ini," pungkasnya. "Sehingga kita lihat banyak yang usia muda bukan hanya dia yang di atas 70-80 tahun yang di atas 50 atau 40 tahun itu pun juga banyak mengalami kematian di Indonesia."

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts