Banyak Tenaga Medis Meninggal Gegara Corona, IDI 'Salahkan' Pasien
Getty Images
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menilai ketidakjujuran pasien COVID-19 sebagai salah satu penyebab banyaknya tenaga medis yang terpapar virus, bahkan sampai meninggal dunia.

WowKeren - Tenaga medis menjadi salah satu pihak yang berisiko tinggi tertular COVID-19. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bahkan mencatat ada puluhan dokter yang sudah meregang nyawa akibat terinfeksi virus Corona.

IDI pun mengungkapkan sejumlah alasan mengapa hal ini bisa terjadi. Salah satunya adalah dari ketidakjujuran pasien positif COVID-19.


IDI menyebut banyak tenaga medis yang tertular COVID-19 karena pasien yang dihadapi tidak jujur. "Penyakit COVID-19 bukanlah aib, jadi jujurlah biar tidak kena orang lain dan nyawa sendiri selamat karena cepat ditangani," ujar Ketua Lembaga Riset IDI, dokter Marhen Hardjo, Selasa (7/4).

Marhen menyebut saat ini ada sekitar 31 dokter yang meninggal akibat terpapar COVID-19. Namun ternyata kebanyakan dari mereka tak melakukan kontak langsung dengan pasien positif COVID-19.

Apesnya, dokter-dokter itu berhadapan dengan pasien yang tampak sehat padahal membawa virus Corona. Indikasi ini tak sempat dilihat dokter yang merawat karena sang pasien tidak terbuka soal riwayat perjalanan maupun kontaknya dengan pasien positif COVID-19.

"Biasanya pasien yang datang ke dokter kan adalah orang tanpa gejala tetapi membawa virus itu," terang Marhen, dilansir dari Detik News, Rabu (8/4). "Seharusnya mereka jujur soal riwayat perjalanan mereka kepada para dokter, atau pernah berkontak dengan pasien COVID-19 sebelumnya."

"Mereka datang ke puskesmas atau rumah sakit dengan diagnosa bukan Corona, padahal Corona," imbuh sang dokter. "Akhirnya dokter kena juga karena ketidakterbukanya pasien."

Pernyataan Marhen ini berkaca dari peristiwa yang dialami Dokter Bernadette Albertine Fransisca, seorang tenaga medis ahli telinga-hidung-tenggorokan (THT). Sang dokter meninggal dunia dengan status pasien dalam pengawasan (PDP) COVID-19 pada Senin (6/4).

Dokter Bernadette tertular virus ketika merawat pasiennya yang ternyata membawa virus Corona. Oleh karenanya IDI berharap ada skrining terhadap pasien yang berobat sebelum bertemu dokter.

IDI juga baru-baru ini mengeluarkan fatwa agar dokter mengurangi jam praktik tatap muka langsung dengan pasien. Dokter diimbau untuk memaksimalkan platform pelayanan kesehatan lain kecuali kasus gawat darurat.

"Mengurangi jam praktik tatap muka langsung dengan pasien kecuali kasus gawat darurat atau yang segera memerlukan penanganan," demikian kutipan salah satu poin dalam surat edaran IDI. "Merekomendasikan pemanfaatan konsultasi dengan pasien melalui platform telemedicine."

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts