Pemerintah memberlakukan kebijakan home learning pada para siswa PAUD hingga SMA sejak wabah corona masuk ke Indonesia. Sayangnya, kebijakan tersebut rupanya menimbulkan keresahan sendiri bagi para siswa.
- Nidya Putri
- Kamis, 09 April 2020 - 10:21 WIB
WowKeren - Sejak masuknya wabah corona di Indonesia, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan untuk mengganti kegiatan belajar mengajar di sekolah menjadi dari rumah atau (home learning). Hal ini dilakukan demi menekan penyebaran virus corona terutama kepada anak-anak.
Namun, dibalik kebijakan yang diambil pemerintah tersebut rupanya mendatangkan keresahan di kalangan sejumlah murid dan pengajar. Seperti yang dialami oleh siswa SMPN 9 Jakarta, Gerson, sejak pukul 7 pagi sudah berada di depan laptop milik sang ibu yang diletakkan di meja belajarnya.
"Biasanya jam 7 akan dikasih tugas. Tugasnya dari link website sekolah. Dari kelas 7 sampai 9 akan dapat tugas yang sama," ujar Gerson. Di hari itu, ia mendapat tugas Bahasa Indonesia dan mengisi Matematika dari tautan laman itu. "Bahasa Indonesia disuruh bikin puisi soal corona, matematika ada soal sejenis tes IQ," imbuhnya.
Sekolahnya sendiri telah menerapkan kebijakan home learning sejak pertengahan Februari. Hingga kini, ia mengaku mulai rindu untuk bertemu dengan teman-temannya. "Ya pengen main, mengobrol, sosialisasi sama teman-teman. Kalau di sekolah bisa cerita-cerita, makan bareng juga," ungkapnya.
Terkait efektivitas belajar dari rumah, Gerson menilai jika lebih baik belajar di sekolah lantaran bisa bertanya langsung kepada guru apabila ada materi yang tidak dimengerti. "Tidak efektif (home learning), susah untuk bertanya pada guru, sedangkan kalau di sekolah bisa langsung tanya," terangnya.
Tak hanya itu, Gerson juga mengaku bahwa kuota internetnya membengkak selama home learning. "Mama sampai heran, tapi mau bagaimana lagi. Saya butuh internet apalagi masa-masa ini," pasrahnya.
Senada, siswi SMA 25 Muhammadiyah Pamulan, Dea mengatakan bahwa home learning yang diadakan sekolahnya selama 3 minggu ini tidak efektif. "Guru-guru kurang memberikan materi, kebanyakan hanya memberikan tugas," ungkapnya.
Dea juga menceritakan soal kebutuhan kuota internet yang bertama selama home learning berlaku. Jika per bulan biasanya hanya perlu 3 gigabyte (Gb), kini menjadi 10 Gb. "Benar-benar menguras kuota, apalagi kalau sinyalnya lemot," tuturnya.
Ia pun berharap agar pihak sekolah bisa memfasilitasi para siswa-siswi di masa 'sekolah di rumah' ini dengan memberikan fasilitas kuota internet. "Mungkin sekolah bisa memfasilitasi kuota dan menyelenggarakan diskusi supaya materi tetap tersampaikan," pungkasnya.
Sementara itu, pandemi corona di Indonesia yang masih belum mereda membuat pemerintah serta Dinas Pendidikan berniat untuk memperpanjang "libur" para siswanya tersebut hingga pertengahan Apri. Namun, ada daerah yang membuka kemungkinan untuk meliburkan para siswa PAUD sampai jenjang SMA hingga bulan Mei.
(wk/nidy)