Pada Jumat (10/4), Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi pada pukul 22.35 WIB. Berdasarkan pemantauan yang dilakukan PVMBG, tinggi kolom abu yang taramati mencapai 500 meter dpl.
- Zodiak Yanuarita
- Sabtu, 11 April 2020 - 07:48 WIB
WowKeren - Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi pada Jumat (10/4) malam sekitar pukul 22.35 WIB. Erupsi tersebut dilaporkan masih terjadi hingga pukul 03.00 dini hari.
PVMBG mencatat hingga pukul 03.20 lava pijar dari Kawah Anak Gunung Krakatau masih terlihat. Sementara itu, saat erupsi pada Jumat malam, gunung ini menyemburkan kolom abu setinggi 500 meter di atas puncak.
"Terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau pada hari Jumat," kata petugas yang melaporkan kejadian, Fahrul Roji, Jumat (10/4). "Yang 10 April 2020, pukul 22:35 WIB dengan tinggi kolom abu teramati ± 500 m di atas puncak (± 500 m di atas permukaan laut)."
Sementara itu, untuk alasan keamanan, warga diminta untuk menjauh sekitar 2 kilometer dari pusat kawah. "Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah," jelasnya.
Saat erupsi, Anak Krakatau menyemburkan abu dengan intensitas sedang ke tebal ke arah utara. "Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 40 mm dan durasi 2.284 detik," lanjut dia.
Semburan abu tebal dari Anak Krakatau bahkan sampai ke Pulau Sebesi, Lampung Selatan, yang berjarak sekitar 19 kilometer dari gunung. "Abunya tebal, dari jam 12 malam tadi turun. Sampai di depan rumah ini masih ada abunya," kata Rahmat, salah seorang warga, dilansir Tribun, Sabtu (11/4).
Tak hanya abu, dentuman keras pun juga dirasakan olehnya hingga menyebabkan rumahnya terasa bergetar. Akibat erupsi ini, warga yang tinggal di pesisir pantai berbondong-bondong untuk mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.
Mereka masih trauma dengan kejadian tsunami beberapa waktu lalu. "Warga di pesisir Kalianda langsung ngungsi ke gunung. Trauma karena tsunami kemarin," kata Umar, warga Lampung Selatan, masih dilansir Tribun.
Sementara itu, salah seorang warga Kalianda, Agung, menuturkan jika bau belerang sempat tercium usai Anak Krakatau meletus. "Bau belerang tercium," kata Agung.
Sebagian besar warga yang berada di pesisir, dikatakannya mengungsi ke daerah perbukitan. "Terutama, warga yang di pesisir langsung mengungsi ke tempat lebih tinggi. Warga di pesisir (Kecamatan) Rajabasa banyak yang ngungsi," ungkapnya.
(wk/zodi)