Unik, Begini Perjuangan Masyarakat Adat Perangi Virus Corona Lewat Ritual Dan Kearifan Lokal
Getty Images
Nasional

Begini perjuangan unik masyarakat adat di Indonesia dalam memerangi virus corona di sejumlah daerah, andalkan ritual dan kearifan lokal untuk melawan COVID-19.

WowKeren - Pandemi virus corona (COVID-19) memang telah mengancam kehidupan seluruh lapisan masyarakat dunia. Sejumlah negara hingga daerah-daerah tentunya memiliki cara tersendiri dalam menghadapi masa pandemi global ini.

Salah satunya adalah Indonesia yang memiliki banyak masyarakat adat di seluruh pelosok Nusantara. Mereka rupanya mengandalkan kebiasaan adat dan ritual masing-masing guna mencegah penularan virus corona.

Di wilayah adat Banualemo di Sulawesi Selatan contohnya, para perempuan bergotong royong meracik cairan desinfektan alami berbahan daun sirih dan jeruk nipis. Cairan ini lantas digunakan sebagai bahan penguapan di sebuah tempat 'bilik sterilisasi' yang dibangun oleh para pemuda setempat.

Baso yang merupakan seorang anggota masyarakat adat Banualemo dan tinggal di Desa Bone Lemo, Bajo Barat, Luwu, Sulawesi Selatan menjelaskan jika cara itu sudah dianjurkan secara turun temurun dari para leluhur. Ditambah dengan sejumlah modifikasi perkembangan zaman, cara tersebut dinilai ampuh sebagai pembasmi kuman dan penyakit serta memerangi virus corona.

”Kita dari awal tidak menginginkan menggunakan bahan kimia untuk manusia,” ujar Baso seperti dilansir dari BBCNews Indonesia, Selasa (14/4). “Dulu pengobatan menggunakan dengan model pengasapan, ini yang kita modifikasi pengasapannya.”

Selain itu, tradisi Banualemo juga kerap mengandalkan tabib jika ada warga yang sakit. Pengobatan dilakukan dengan diasapi cairan berbahan daun sirih dan jeruk nipis. Bahan-bahan itu juga dipercaya perempuan setempat yang akan menikah memiliki tujuan penyucian diri dan mengusir roh jahat.

Sementara itu, masyarakat Dayak Kaharingan yang tinggal di Tumbang Malahoi, Rungan, Gunung Mas, Kalimantan Tengah berusaha melawan COVID-19 dengan menggelar ritual manggatang sahur lewu. Ritual ini merupakan bentuk permintaan tolong dan perlindungan dari patahu (para leluhur) penjaga kampung.

Warga juga menggelar ritual amapas lewu, yaitu ritual untuk membersihkan kota atau kampung dari pengaruh jahat atau hal-hal buruk yang terjadi akibat tindakan manusia maupun roh-roh jahat. Ritual ini juga turut menerapkan physical distancing seperti imbauan pemerintah.


Biasanya, ritual itu diikuti oleh seluruh masyarakat adat yang tinggal di suatu wilayah. Namun akibat vors corona, ritual ini hanya diikuti oleh sebagian kecil masyarakat Dayak Kaharingan di Tumbang Malahoi. "Karena ada pembatasan untuk kumpul orang banyak, yang membagi beras marua dan kain kuning sebagai tanda, ketua RT masing-masing," jelas Thomas Edison, salah satu warga Dayak Kaharingan.

Hal berbeda dilakukan oleh masyarakat adat Orang Rimba di Jambi. Diketahui, praktik social distancing ternyata telah lama diterapkan jauh sebelum virus corona mewabah.

Orang rimba menyebutnya dengan besesandingon, atau tradisi yang selama ini mereka lakukan untuk menghentikan segala penyakit menular. Pegiat hak masyarakat adat Orang Rimba, Saur Marlina Manurung menjelaskan social distancing ala Orang Rimba ini tidak akan memperbolehkan orang sakit berbaur dengan orang sehat.

”Di rimba itu kan semua orang tinggal di dekat sungai, dan itu ada konsep hulu hilir. Jadi orang kalau baru datang, dia harus tinggal di paling hilir dari semua orang,” jelas Saur. “Jadi mereka percaya belum tentu orang ini sakit, tapi orang ini bisa jadi membawa penyakit walaupun orang ini nggak sakit.”

Kemudian di Jawa biasa terkenal tradisi tolak bala untuk melawan virus corona. Sebagai contoh, sejumlah warga Solo di Jawa Tengah menggelar ritual tolak bala untuk mengusir wabah virus corona dengan memasak sayur lodeh hingga memasang sesaji gantungan daun alang-alang dan daun opo-opo hingga cukur gundul.

”Kalau Keraton Yogya tolak bala dengan sayur lodeh, kalau saya dengan ritual memasang godong (daun) alang-alang dan godong opo-opo," ujar GKR Wandansari, salah satu keluarga Keraton Kasunanan Surakarta. "Ya, artinya ora ono alangan opo-opo (supaya tidak terjadi apa-apa). Terus kalau ada yang jelek-jelek ke kita itu di-alangi (dihalangi).”

Pakar antropologi yang juga peneliti Pusat Etnografi Komunitas Adat di Yogyakarta, Yando Zakaria menjelaskan jika sejumlah tradisi tersebut merupakan bentuk keseimbangan. Setiap manusia dinilai selalu menggunakan ilmu mereka tentang alam untuk menyeimbangkan hubungan dengan sekitar.

"Masyarakat adat dengan perkembangan kehidupan yang mereka hadapi dengan segala pengetahuan mereka tentang alam, pada umumnya memiliki prinsip kehidupan bagaimana menyeimbangkan, “ jelas Yando. “Menjaga keseimbangan tiga arah, hubungan antara sesama manusia, hubungan manusia dan alam sekitar dan hubungan manusia dengan alam yang di luar jangkauan manusia.”

(wk/lian)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait