Bukan lewat internet ataupun tayangan televisi, belajar dengan mengandalkan radio saat di rumah justru lebih efektif dan memiliki manfaat yang besar bagi para siswa. Kok bisa?
- Ruth Meliana
- Selasa, 14 April 2020 - 15:53 WIB
WowKeren - Pandemi virus corona (COVID-19) telah membuat Pemerintah Indonesia mengeluarkan sejumlah kebijakan. Salah satunya adalah dengan meliburkan sekolah dan meminta seluruh aktivitas kegiatan belajar mengajar dilakukan di rumah.
Aktivitas belajar mengajar saat ini diterapkan dengan menggunakan berbagai cara. Diantaranya adalah dengan memanfaatkan video call antara murid dan guru hingga adanya tayangan berbagai macam mata pelajaran di stasiun televisi.
Namun, dari media internet hingga televisi, justru ada satu media yang dinilai lebih efektif di tengah pandemi virus corona ini. Media ini adalah radio dimana siswa dapat memanfaatkannya sebaga sarana belajar di rumah.
Direktur Utama LPP Radio Republik Indonesia (RRI), M Rohanudin mengatakan jika fasilitas radio justru jauh lebih efektif dan interaktif sebagai media pembelajaran. Pasalnya, radio dinilai dapat meningkatkan daya imajinasi siswa.
"Yang menarik, tiba-tiba ada seorang siswa yang menangis karena rindu ibu gurunya,” kata M Rohanudin dalam siaran langsung dari kanal YouTube BNPB, Selasa (14/4). “Mungkin itu adalah ibu guru yang betul-betul dicintainya.”
”Jadi ini adalah sebuah gambaran bahwa RRI atau radio itu memiliki peran imajinasi yang sangat tinggi di dalam memberikan pelayanan publik,” sambungnya. “Yang kedua, belajar di radio adalah cara yang sangat efektif dan lebih interaktif dibanding dengan belajar secara online.”
RRI sendiri saat ini juga telah menjadwalkan program Belajar di Radio bagi siswa Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Program-program belajar dari rumah ini akan disiarkan oleh RRI setiap Senin-Jumat pukul 10.00-11.00 WIB.
Lebih lanjut Rohanudin percaya jika belajar melalui radio dapat menghidupkan theater of mind pelajar. Tidak ingin membuat siswa terlalu tertekan, RRI bahkan menyiapkan musik-musik yang akan menyelingi setiap segmen pelajaran.
"Karena kelebihan radio yang auditif dapat menghidupkan theater of mind anak-anak sekolah,” jelas Rohanudin. “Apalagi acara ini dikonstruksi untuk menampilkan jeda-jeda penting, menampilkan 12 lagu yang disajikan adalah musik-musik yang selaras dengan segmen mereka.”
"Ini menggambarkan cara-cara siaran lewat radio sebuah upaya untuk membangun imajinasi publik sangat dibutuhkan pada saat situasi tidak menyenangkan bagi kita,” sambungnya. “Bagi masyarakat Indonesia dalam serangan COVID-19 yang bertubi-tubi pada masyarakat dunia ini.”
(wk/lian)