Wabah Corona di RI Meluas, Ahli Biologi Molekuler Beber Skenario Ideal Hadapi Pandemi
Nasional

Para ahli mencoba membuat beberapa skenario terkait penanganan wabah virus Corona. Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Profesor Amin Soebandrio pun membeberkan 2 skenario diantaranya.

WowKeren - Para ahli tak ingin berpangku tangan dalam menangani wabah virus Corona. Kendati tak bisa berjuang langsung di garda terdepan sebagai tenaga medis, para ahli ini sibuk menyiapkan berbagai skema yang bisa menjadi alternatif penanganan wabah.

Terkait hal tersebut, Direktur Lembaga Eijkman Molecular, Profesor Amin Soebandrio pun mengaku pihaknya telah mempersiapkan setidaknya 2 skenario untuk penanganan wabah. Kedua skenario ini turut memperkirakan kapan pandemi COVID-19 akan berakhir.

Tak hanya soal kapan puncak pandemi akan tiba, peneliti juga memprediksi soal seberapa besar dampak yang muncul dari pandemi tersebut. "Tetapi tidak cukup sampai kapan puncak (pandemi) itu akan tercapai, namun yang lebih penting adalah seberapa tinggi puncaknya," kata Prof Amin yang digelar pada Rabu (22/4) kemarin.

Salah satu skenario yang disiapkan adalah ketika puncak tertinggi wabah terjadi dalam 2-3 minggu ke depan dengan angka kasus mencapai mendekati 100 ribu pasien positif. Dalam skenario tersebut, angka kasus akan menurun dengan tajam setelah 1-2 minggu hingga wabah selesai.

Namun dengan skenario tersebut, ada sekitar 80 persen pasien yang harus dirawat di rumah sakit. Hal ini tercermin dari jumlah pasien terkait COVID-19 yang sampai saat ini berjumlah nyari 7 ribu orang, dengan 5-6 ribu diantaranya dirawat di rumah sakit.


"Bisa dibayangkan jika orang yang terinfeksi ada 100 ribu orang, maka yang perlu mendapat perawatan di rumah sakit ada sekitar 70 ribu sampai 80 ribu orang," kata Prof Amin, dilansir dari Kompas, Kamis (23/4). "Pertanyaannya, apakah fasilitas layanan kesehatan kita siap merawat pasien sebanyak itu?"

Sedangkan ada skenario kedua, dimana grafik kasus akan jauh lebih stabil dan tidak ada lonjakan kasus seperti model pertama. "Kalau puncaknya sekitar 10 ribu sampai 15 ribu kasus," ujarnya.

Angkanya memang lebih rendah bila dibandingkan dengan skenario pertama, namun Prof Amin memperkirakan skenario kedua akan memakan waktu lebih lama. Hanya saja ada perbedaan signifikan dari jumlah orang yang memerlukan perawatan di rumah sakit serta waktu masuk pasien ke rumah sakit.

Secara garis besar, jumlah total pasien yang timbul dari kedua skenario sebenarnya sama saja, namun tidak ada lonjakan kasus yang berpotensi "mematikan" tenaga medis. Alhasil pelayanan kesehatan yang diberikan kepada para pasien bisa lebih maksimal.

"Kita bisa gunakan dua skenario ini," pungkas Prof Amin. "Tetapi lebih prefer kurvanya yang flat (skenario kedua)."

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait