Perubahan iklim turut memicu fenomena yang akhir-akhir ini terjadi sehingga perlu antisipasi. Dampak kejadian ekstrem bisa berakibat pada terjadinya bencana hidrometeorologi
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 24 April 2020 - 16:00 WIB
WowKeren - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut jika prediksi awal musim kemarau di Indonesia akan jatuh pada bulan April dan Mei. BMKG juga menyebut jika suhu permukaan air laut di Indonesia masih cenderung hangat hingga kini.
Suhu ini akan berangsur lebih hangat di perairan antara Samudera Indonesia dan perairan utara Australia. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal, menyebut kondisi semacam ini berpotensi memicu terjadinya badai tropis.
"Hal ini menandakan dinamika suhu permukaan laut di perairan ini masih berpotensi," kata Herizal melalui keterangan tertulis, "Dan sesuai untuk tumbuhnya bada tropis."
Pusat Peringatan Badai Tropis Jakarta (Jakarta Tropical Cyclone Warning Center) di BMKG mencatat terdapat peluang terjadinya badai tropis. Di bulan April misalnya, tercatat peluang badai tropis di perairan selatan Indonesia mencapai 11 persen. Peluang ini akan menurun ke 3 persen bulan berikutnya.
"Menghangatnya lautan dapat memicu badai lebih mudah untuk tumbuh," jelas Herizal. "Atau dapat menjadi sumber kekuatan badai sehingga lebih destruktif."
Dalam kajian Balaguru dkk yang diterbitkan di Jurnal Nature Communication pada tahun 2016, disebutkan jika pemanasan global ikut memicu intensifikasi pembentukan super-taifun. Hal ini sesuai dengan hasil kajian oleh peneliti BMKG dengan menggunakan data Joint Typhoon Warning Center (JTWC) terhadap kejadian Siklon Tropis di Samudera Hindia bagian Selatan.
Perubahan iklim di wilayah Indonesia telah terjadi sejak tahun 1866. Hal itu ditandai dengan kenaikan suhu yang mencapai 2.12 derajat celcius dalam periode 100 tahun Selain itu juga meningkatnya frekuensi kejadian dan intensitas curah hujan ekstrem dalam 30 tahun terakhir.
Perubahan iklim turut memicu fenomena yang akhir-akhir ini terjadi sehingga perlu dilakukan antisipasi. Dampak kejadian ekstrem bisa berakibat pada sering terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan kekeringan. "Peningkatan frekuensi dan intensitas kejadian ekstrem menimbulkan dampak makin parah dalam kehidupan manusia," ujar dia.
(wk/zodi)