Angka Perceraian di Semarang Diprediksi Meningkat Imbas Corona
Nasional

Tak hanya di Indonesia, fenomena meningkatnya angka perceraian secara tajam juga terjadi di Tiongkok selama masa karantina. Hal tersebut disebabkan karena ketidakcocokan.

WowKeren - Pengadilan Agama Kelas 1A Semarang memprediksi jika angka perceraian di sana akan terus mengalami peningkatan. Dari awal tahun hingga April 2020 saja, pengadilan sudah menangani sebanyak 1.000 perkara perceraian.

Kepala Pengadilan Agama Kelas 1A Semarang, Anis Fuadz, menduga jika semakin meningkatnya angka perceraian disebabkan karena faktor ekonomi. Seperti diketahui, kondisi perekonomian RI kian suram menyusul merebaknya pandemi corona (COVID-19) ini sejak Maret lalu.

Tak sedikit pengusaha yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap para karyawannya seiring dengan lesunya kondisi keuangan. "Tentu masalah ekonomi yang kami khawatirkan menjadi pemicunya. Tapi ini masih prediksi saja," ujar Anis, Sabtu (25/4).

Anis menyebut jika di tahun sebelumnya pihaknya telah menangani angka perceraian sekitar 3.000 an. Tidak menutup kemungkinan tahun ini bisa melampaui jumlah tersebut jika kondisi ekonomi terus seperti ini.


Saat ini, pihaknya hanya melayani perkara yang masuk secara daring. Ia berharap agar ketika layanan sudah beroperasi normal ketika pandemi mereda kasus perceraian tidak membludak.

"Bisa saja lebih dari tahun sebelumnya. Tapi untuk saat ini kita bisa batasi perkara yang masuk, karena kita gunakan sistem daring," lanjut Anas. "Tapi kalau sudah dibuka kembali, kita nggak tau. Semoga saja tidak membludak."

Tak hanya di Indonesia, fenomena meningkatnya angka perceraian secara tajam juga terjadi di Tiongkok. Hal tersebut disebabkan karena semasa karantina banyak pasangan yang menghabiskan waktu bersama dan justru menimbulkan ketidakcocokan hingga berakhir pertengkaran hebat.

"Semakin banyak waktu yang mereka habiskan bersama, semakin mereka saling membenci," kata Pengacara perceraian Shanghai Steve Li di Gentle & Trust Law Firm menjelaskan kasus barunya. "Orang-orang membutuhkan ruang. Bukan hanya untuk pasangan, ini berlaku untuk semua orang."

Perlu diketahui tingkat perceraian di Tiongkok terus meningkat sejak tahun 2003. Lebih dari 1,3 juta pasangan bercerai dalam setahun. Menurut statistik dari Kementerian Urusan Sipil, jumlahnya meningkat secara bertahap selama 15 tahun.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait