Pasien Sembuh COVID-19 Mulai Donor Plasma Darah di RI, Pakar Tegaskan Bukan Pengobatan Massal
Nasional

Penelitian untuk menguji coba plasma darah ini mulai dilakukan oleh RSPAD Gatot Soebroto Jakarta yang bekerjasama dengan lembaga penelitian dan laboratorium Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan produsen vaksin Bio Farma.

WowKeren - Uji coba plasma darah dari pasien sembuh COVID-19 sebagai alternatif terapi corona mulai dilakukan di Indonesia. Penyintas (survivor) COVID-19 Tanah Air bahkan sudah mulai mendonorkan plasma darah mereka.

Sebagai informasi, sistem kekebalan tubuh pasien positif COVID-19 akan merespons dengan menciptakan antibodi yang menyerang virus tersebut. Lama kelamaan, antibodi tersebut terkumpul dan dapat ditemukan di plasma, yakni komponen cairan darah.

Penelitian untuk menguji coba plasma darah ini mulai dilakukan oleh RSPAD Gatot Soebroto Jakarta yang bekerjasama dengan lembaga penelitian dan laboratorium Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan produsen vaksin Bio Farma. Namun, peneliti mengingatkan bahwa terapi plasma darah ini bukanlah obat massal untuk COVID-19 jika nantinya berhasil.

Kriteria donor plasma darah sendiri disebut masih perlu diperjelas. Kepala LBM Eijkman, Profesor Amin Soebandrio, menyebut bahwa terapi plasma darah untuk pasien COVID-19 tidak dapat dipakai untuk kalangan umum seperti obat biasa.

"Perlu dicatat bahwa pengobatan ini sangat individual, tidak bisa dianggap sebagai mass treatment, seperti misalnya kita membuat obat 'x' dan bisa dipakai semua orang, dengan dosis yang sama misalnya tiga kali sehari satu tablet misalnya, tidak demikian," ungkap Amin dilansir BBC News Indonesia pada Selasa (28/4). "Donornya harus dipastikan aman, produknya harus aman dan penerimanya harus dipastikan ketika menerima itu dia tetap aman. Jadi betul-betul individual, tidak bisa dianggap sebagai obat yang dipakai ramai-ramai."


Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini menyatakan bahwa pihaknya masih belum bisa memastikan apakah orang-orang yang sembuh dari COVID-19 akan kebal dari virus tersebut. WHO mengungkapkan ada kemungkinan mereka bisa terjangkit kembali.

Selama ini, pasien COVID-19 dinyatakan sembuh apabila hasil tes swab tenggorokan mereka sudah negatif selama 2 pengujian berturut-turut. Namun menurut pakar biologi molekuler Ahmad Rusjdan Utomo, hal tersebut kini sudah tidak relevan lagi.

"Kita mulai baca laporan dari berbagai jurnal (ilmiah) itu ternyata tidak cukup kalau swab tenggorokan atau nasal, mungkin juga swab dari rektal atau anal," terang Ahmad. "Karena virus ini kan clearance-nya atau salah satu jalur keluar dari tubuh adalah melalui rektum, jadi kalau dari rongga atas sudah bersih, pastikan rongga bawahnya sudah bersih apa belum."

Ahmad juga menjelaskan bahwa para pasien COVID-19 yang sudah sembuh di Tiongkok tidak langsung dilepas ke masyarakat begitu saja. Mereka harus menjalani karantina lagi selama 2 minggu dan dimonitor secara berkala dengan tes.

"Kelemahan (uji klinis plasma darah) karena kriterianya masih moving target, apa kriteria sembuh? Lalu apa kriteria donor? Apakah cukup dengan PCR tes dua kali, dengan periksa tenggorok, dan jika itu bersih apakah itu cukup? Karena orang bisa kena (virus corona) lagi," pungkas Ahmad. "Ketika ia sembuh belum tentu kebal. WHO juga sudah mengeluarkan datanya."

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait