Pengusaha meminta para karyawan dapat bersikap pengertian jika perusahaan tidak bisa membayarkan Tunjangan Hari Raya (THR) pada karyawan secara tepat waktu.
- Ruth Meliana
- Kamis, 14 Mei 2020 - 21:35 WIB
WowKeren - Pandemi virus corona (COVID-19) saat ini tengah menciptakan situasi krisis bagi perekonomian dunia. Imbasnya, banyak perusahaan-perusahaan terpaksa harus melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya lantaran tidak mendapatkan pemasukan.
Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Ketenagakerjaan dan Hubungan Industrial Antonius J Supit mengungkapkan jika perusahaan yang masih bertahan saat ini juga berpotensi mengalami gulung tikar. Pasalnya, para pengusaha saat ini dituntut untuk membayarkan tunjangan hari raya (THR) terhadap karyawan secara tepat waktu.
Rupanya, saat ini banyak pengusaha yang tak mampu membayar THR meski berikhtiar baik memenuhi kewajibannya. Para pengusaha yang mengeluhkan ketidakmampuan mereka membayar THR tepat waktu didominasi usaha industri yang telah dilarang beroperasi oleh pemerintah sejak dua bulan terakhir seperti perhotelan.
”Kalau semua dipaksakan, tidak banyak kemewahan yang bisa dipilih, kalau takut denda terus bayar tapi bangkrut ini kan pilihan yang sulit,” jelas Antonius seperti dilansir dari CNNIndonesia pada Kamis (14/5). “Kalau enggak ada duitnya mau dibayar pakai apa? Mau bayar denda pakai apa? Apa mau dipenjara kan juga engga bisa.”
Oleh sebab itu, Antonius meminta agar para pekerja bisa mengerti dan memahami posisi pengusaha jika belum bisa membayarkan THR. Menurutnya, jika tidak ada kesepakatan antara pekerja dan pengusaha, maka dampak buruk justru dialami kedua belah pihak. Karyawan berpotensi kehilangan pekerjaan mereka jika perusahaan gulung tikar.
Pendapat serupa juga diutarakan oleh Ketua Dewan Presidium Nasional (DPN) Bidang Ketenagakerjaan dan Jaminan Sosial Apindo Aloysius Budi Santoso. Ia takut jika pengusaha dipaksa membayar THR tepat waktu, maka hal tersebut justru menyebabkan angka pengangguran di Indonesia semakin meningkat tajam.
”Untuk bertahan saja sudah setengah mati,” papar Aloysius. “Kalau usahanya saja sudah tutup 2 bulan ya masa masih dipaksa bayar? Kalau masih memaksa, kata saya, yang mempekerjakan ya salah pilih karyawan saja.”
(wk/lian)