Meghan Markle menghadapi potensi kerugian besar jika stok produk mereknya tidak terjual.
- Senin, 15 Juni 2026 - 21:01 WIB
WowKeren - Meghan Markle, istri Pangeran Harry, terancam mengalami kerugian hingga US$5 juta atau setara dengan Rp88,5 miliar jika stok produknya yang belum terjual tidak laku sebelum masa kedaluarsanya berakhir. Ia memiliki waktu hingga akhir musim panas tahun depan untuk menjual seluruh stok selai, teh, dan taburan bunga yang diproduksinya melalui merek As Ever.
Isu kelebihan stok ini muncul setelah Markle mengambil keputusan untuk memperluas bisnisnya dengan agresif setelah melihat kesuksesan awal dari peluncuran mereknya. Saat meluncurkan As Ever pada April 2025, produk-produk yang ditawarkan terjual habis dalam waktu singkat. Beberapa bulan kemudian, ia melakukan pengisian ulang stok dengan memesan produk hingga 10 kali lebih banyak dari jumlah awal untuk memenuhi tingginya permintaan.
Keputusan tersebut kembali membuahkan hasil positif, di mana produk yang baru saja diisi ulang juga habis terjual dalam waktu yang sangat cepat. Ditambah lagi, produk rosé wine yang ditambahkan ke dalam koleksi merek tersebut juga terjual dalam waktu kurang dari satu jam. Melihat angka penjualan yang menjanjikan ini, Markle memutuskan untuk melakukan ekspansi bisnis yang lebih besar.
“Tiba-tiba pembicaraan yang awalnya hanya tentang beberapa ribu toples dan tutup berubah menjadi kebutuhan membuat pesanan satu juta unit. Itu lompatan yang sangat besar hanya dalam beberapa bulan setelah memulai bisnis,” ujar Meghan Markle dalam wawancaranya dengan Bloomberg pada Agustus tahun lalu.
Namun, pada Januari 2026, sebuah kesalahan teknis pada situs web As Ever mengungkapkan bahwa terdapat sekitar 650.190 unit stok yang belum terjual. Bahkan, sumber yang dikutip oleh Page Six menyebutkan bahwa Markle memiliki begitu banyak stok selai hingga ia terpaksa membagikannya secara gratis kepada staf Netflix.
Saat ini, jumlah pengunjung situs dagang milik Markle mengalami penurunan yang signifikan, yang berdampak pada upaya penjualan seluruh persediaan tersebut. Data dari Similarweb menunjukkan bahwa pada Desember 2025, situs As Ever menerima 246 ribu kunjungan, dengan 180 ribu di antaranya berasal dari Amerika Serikat. Namun, jumlah pengunjung dari AS merosot tajam pada Januari 2026 menjadi hanya 89 ribu.
Penurunan ini terus berlanjut, di mana pada Februari 2026, As Ever hanya menerima 213 ribu kunjungan, termasuk 83,5 ribu dari AS. Meskipun ada sedikit peningkatan pada Maret 2026 dengan 94 ribu kunjungan dari AS, jumlah pengunjung kembali menurun drastis pada April 2026, di mana hanya 61,5 ribu pengunjung dari AS yang mampir ke situs tersebut dari total 178 ribu kunjungan.
Walaupun data kunjungan sering kali digunakan sebagai indikator kinerja bisnis, penting untuk dicatat bahwa angka penjualan resmi belum pernah dipublikasikan. Menanggapi situasi ini, juru bicara Meghan Markle menegaskan bahwa narasi tentang bisnis Duchess of Sussex yang menuju kebangkrutan hanyalah spekulasi belaka.
“Masalah dengan semua artikel Daily Mail tentang kiamat As Ever yang ditulis Alison Boshoff adalah bahwa semuanya seperti Groundhog Day: prediksi yang sama, sumber anonim yang sama, keyakinan yang sama, dan entah bagaimana kami masih menunggu bencana yang mereka janjikan sejak 2024,” ungkap juru bicara tersebut. Dengan deadline yang semakin mendekat, Meghan Markle harus segera menemukan solusi untuk menjual stok produknya agar terhindar dari kerugian besar.
(wk/timw)