Keduanya mengaku ingin mengurangi penggunaan plastik dan bahan tak ramah lingkungan lain dari produksi alat pelindung diri (APD), termasuk masker. Simak selengkapnya berikut ini.
- Elvariza Opita
- Rabu, 20 Mei 2020 - 15:23 WIB
WowKeren - Masker menjadi produk perlindungan diri utama di tengah wabah virus Corona. Tak hanya Indonesia, negara-negara lain pun mewajibkan penggunaan masker demi meminimalisir peluang kontak dengan virus Corona.
Namun mengingat langkanya masker bedah atau tipe N95, maka otoritas mengusulkan penggunaan masker kain sebagai alternatif. Dan hal inilah yang menjadi sumber kreativitas dua desainer, Garret Benisch dan Elizabeth Bridges.
Kreativitas keduanya benar-benar patut diacungi jempol. Sebab masker yang mereka ciptakan tak hanya berpotensi menangkal virus Corona, tetapi juga dari bahan ramah lingkungan sehingga tak menimbulkan masalah berkelanjutan.
Dikutip dari Bored Panda, Benisch dan Bridges telah berhasil menciptakan masker penutup wajah dari bahan selulosa mikroba. Desainer dari Sum Studio itu mengaku ingin meminimalisir penggunaan plastik dalam pembuatan masker maupun alat pelindung diri (APD) lainnya.
Masker unik transparan ini diberi nama 'masker xylinum'. Namanya diambil dari jenis bakteri selulosa yang menjadi bahan utama pembuatan masker, yakni Acetobacter xylinum.
Saat mereka berkembang biak, bakteri tersebut dapat merajut serat selulosa menjadi satu membran tunggal yang dapat dipanen dan dikeringkan untuk digunakan sebagai bahan masker. Sementara itu selulosa bersifat tembus pandang sehingga wajah pemakainya tetap bisa dipandang orang lain.
Uniknya lagi, Benisch dan Bridges juga menggunakan bahan yang bisa didapat dengan mudah. Sebab menurut mereka, bakteri itu bisa ditumbuhkan sendiri di rumah. Bagaimana caranya?
Rupanya hanya diperlukan air, teh, gula, dan sedikit sampel bakteri Acetobacter xylinum. Mendapatkan bakteri ini pun tak sulit, cukup dengan mengambilnya dari kombucha tanpa rasa.
Hanya saja untuk bisa menggunakannya masih diperlukan penantian lebih lama. Sebab masker penutup wajah berbahan biomaterial ini masih belum diuji.
Walau lembaran masker tersebut terlihat fleksibel dan kuat, namun masih mudah merosot jika dikenakan. Masker penutup wajah ramah lingkungan ini juga nantinya akan terurai semudah sayuran atau buah ketika sudah tidak terpakai.
(wk/elva)