PSBB yang diterapkan di Surabaya Raya dinilai pakar epidemiologi Universitas Airlangga (Unair), Windhu Purnomo, tidak efektif dalam menekan penyebaran virus corona (COVID-19).
- Bertilia Puteri
- Senin, 08 Juni 2020 - 17:29 WIB
WowKeren - Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Surabaya Raya, Jawa Timur, diketahui telah berjalan hingga 3 tahap. Sayangnya, PSBB tersebut dinilai pakar epidemiologi Universitas Airlangga (Unair), Windhu Purnomo, tidak efektif dalam menekan penyebaran virus corona (COVID-19).
Sebagai informasi, Senin (8/6) hari ini merupakan hari terakhir penerapan PSBB di Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo dan Gresik. "Ya memang tidak efektif," jelas Windhu dilansir CNN Indonesia.
Menurut Windhu, ketidakefektifan PSBB tersebut dapat dilihat dari berbagai faktor. Yang pertama adalah jumlah kumulatif kasus positif virus corona di Surabaya, Sidoarjo dan Gresik yang terus meningkat.
Per Minggu (7/6), Surabaya melaporkan 3.124 kasus COVID-19. Sedangkan Sidoarjo melaporkan 755 kasus COVID-19 dan Gresik 214 kasus COVID- 19.
Windhu menyebutkan jika melihat pertumbuhan kasus kumulatif dan penularan, maka angka serangan infeksi (attack rate) di wilayah Surabaya Raya masih sangat tinggi. Yakni 90 per 100 ribu penduduk.
Menurutnya, angka tersebut lebih tinggi jika dibanding kota-kota besar lainnya. Attack rate di DKI Jakarta misalnya, saat ini tercatat mencapai 70 per 100 ribu penduduk.
"Itu tertinggi dibanding kota-kota di Indonesia," ungkap Windhu. "DKI Jakarta saja cuma 70 per 100 ribu. Provinsi Jawa Timur sendiri juga 12 per 100 ribu penduduk."
Selain itu, wilayah Surabaya Raya, terutama Kota Surabaya, disebut masih memiliki angka kematian atau case fatality rate (CFR) yang sangat tinggi hingga melebihi angka nasional. Angka kematian COVID-19 di Surabaya mencapai 9 persen, sedangkan secara nasional angka kematian COVID-19 di Indonesia hanya 6,3 persen. "Karena CFR itu seharusnya angka global itu tidak boleh lebih dari 5 persen. Jawa Timur 8 persen," tutur Windhu.
Windhu menjelaskan bahwa berdasarkan analisisnya, tingginya angka kematian di Surabaya Raya ini linear dengan meningkatnya angka penularan COVID-19. Sejumlah rumah sakit sendiri kini disebutnya sudah tidak dapat menampung pasien.
Ada pula tenaga kesehatan di Surabaya yang dinyatakan positif COVID-19 dan harus menjalani isolasi. "Ada sebagian yang meninggal, sehingga perawatan tidak optimal maka kematian akan terus ada, dan itu tidak boleh," tegas Windhu.
Tak hanya itu, kondisi Surabaya Raya ini dinilainya masih diperparah deng perilaku masyarakatnya. Menurut riset yang dilakukan oleh alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair, warga Surabaya Raya dinilai sudah tak peduli dengan protokol kesehatan.
"Bahwa perilaku masyarakat kita ini (soal) pakai masker, social distancing, itu bukan makin baik," ujar Windhu. "Tapi makin memburuk."
Di sisi lain, ada indikator yang membaik dari penerapan PSBB di Surabaya Raya ini. Yaitu bilangan reproduksi efektif (Rt) yang disebut mulai menurun per 31 Mei 2020.
"Rt di Surabaya itu sampai tanggal 31 Mei, dilihatnya dari tanggal onset (gejala), bukan tanggal declare (pengumuman kasus), sampai tanggal 31 Mei itu sudah pada angka 1," pungkas Windhu. "Itu bagus."
(wk/Bert)