Gubernur Ridwan Kamil angkat berbicara mengenai datangnya gelombang kedua virus corona. Kini, provinsi Jawa Barat langsung menggelar rapid test massal di sektor ini.
- Ruth Meliana
- Sabtu, 13 Juni 2020 - 07:58 WIB
WowKeren - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil angkat berbicara mengenai ancaman gelombang kedua virus corona (COVID-19). Potensi datangnya second waves COVID-19 ini semakin besar lantaran sejumlah wilayah Indonesia sudah mulai menerapkan new normal.
Ridwan Kamil menjelaskan provinsi Jawa Barat juga akan menerapkan new normal secara bertahap. Tahap pertama adalah pembukaan tempat ibadah. Kemudian tahap selanjutnya adalah membuka seluruh aktivitas perekonomian.
Seluruh kegiatan perekonomian akan dibuka secara bertahap sesuai dengan tingkat risiko penularan virus corona. Industri dan perkantoran akan dibuka terlebih dahulu sebelum disusul sektor perdagangan, pariwisata, dan pendidikan.
Pria yang akrab disapa dengan nama Kang Emil ini menyatakan strategi bertahap menuju new normal itu bertujuan untuk mengantisipasi gelombang kedua COVID-19. Ia juga memberi catatan khusus untuk sektor pariwisata dan pendidikan dengan berkaca pada kasus di luar negeri.
”Pariwisata yang didahulukan adalah pariwisata outdoor dan siang hari,” kata Ridwan Kamil di Gedung Pakuan, Bandung pada Jumat (12/6/20). “Jadi, hiburan malam dan yang sifatnya pariwisata malam hari, kami tidak rekomendasikan dulu, walau diskresi tetap ada di (pemerintah) kabupaten/kota.”
”Pendidikan juga kami masih tahan. Kasus di Israel, di Prancis, di Korea Selatan, klaster pendidikan tinggi,” sambung Mantan Wali Kota Bandung ini. “Maka, pendidikan per hari ini belum kita buka dulu, sampai situasi aman.”
Selain itu, Ridwan Kamil menyatakan jika Jabar sedang fokus untuk melakukan rapid test massal di 700 pasar tradisional. Diketahui jika potensi penularan virus corona atau klaster-klaster COVID-19 di pasar tergolong tinggi.
”Total 700 pasar yang akan kami lakukan pengetesan,” beber Ridwan Kamil. “Sehingga tidak ada pedagang pasar yang terkena (COVID-19), dan mengakibatkan kerugian berupa penutupan pasar dalam waktu yang tidak ditentukan.”
Saat ini, Jabar telah menyiapkan 627 Mobile COVID-19 Test dan Laboratorium Moblie Bio Safety Level 3 (BSL3) dari PT Bio Farma (Persero) untuk mengambil sampel di pasar tradisional. Tes COVID-19 massal ini tidak hanya terdiri dari rapid test saja, namun juga ada maupun swab test.
Ridwan Kamil menjelaskan banyaknya klaster COVID-19 di pasar Jabar akibat ketidakdisiplinan pedagang maupun pengunjung dalam mematuhi protokol kesehatan. Ia mengaku telah memberikan sosialisasi pada pedagang maupun pengunjung pasar untuk menjalani rapid test demi menghindari penolakan tes seperti yang terjadi di sejumlah daerah lain.
”Kami meyakini banyak pembeli dan penjual tidak disiplin pakai masker, sehingga pembeli bisa tertular oleh penjual, penjual bisa tertular oleh pembeli,” tuturnya. “Saya sudah berkoordinasi dengan Kepolisian dan TNI untuk mengawal pengetesan ini, sehingga tidak ada penolakan di masyarakat karena kurang sosialisasi.”
(wk/lian)