Muhadjir Effendy meminta kepala-kepala daerah lain untuk belajar cara mengendalikan wabah Corona dari Walkot Surabaya, Tri Rismaharini. Sedangkan saat ini Surabaya mengonfirmasi 4 ribu lebih kasus positif.
- Elvariza Opita
- Rabu, 17 Juni 2020 - 16:33 WIB
WowKeren - Jawa Timur menjadi provinsi yang dikhawatirkan bakal "memuncaki" daftar daerah paling terdampak COVID-19 di Indonesia. Dan mayoritas kasus positif di Jatim itu diketahui berada di Surabaya, dengan konfirmasi terakhir pada Selasa (16/6) kemarin mencapai 4.181 kasus positif.
Namun baru-baru ini Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy justru meminta agar Surabaya menjadi "panutan". Dalam hal ini, Muhadjir meminta agar kepala-kepala daerah lain berguru soal penanganan wabah COVID-19 kepada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.
"Suruh belajar ke sini mereka, biar tahu," kata Muhadjir pada Selasa (16/6). Lebih spesifik, imbauan ini harapannya dilakukan oleh para kepala daerah yang memiliki banyak kasus positif COVID-19 di wilayah yang dipimpinnya.
Tak hanya itu, untuk memudahkan "transfer" ilmu, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu meminta agar staf Risma menyusun rinci dan akurat paparan Risma soal tata cara penanganan pandemi. Harapannya semua orang nanti bisa ikut mempelajari soal strategi Risma dalam mengendalikan wabah.
"Supaya semua upaya yang telah dilakukan oleh Ibu Risma bersama jajarannya itu bisa dipelajari semua orang," kata Muhadjir, seperti dilansir dari Kompas, Rabu (17/6).
Pada kesempatan itu, sebelumnya, Risma sudah menjelaskan bahwa Surabaya akan memasuki masa transisi dari pembatasan sosial berskala besar (PSBB) ke fase new normal. Tentu ada banyak penyesuaian yang mesti dilakukan di masa-masa itu, yang sudah diatur secara ketat protokol kesehatannya oleh Risma.
"Dalam Perwali itu dijelaskan secara detail tentang berbagai protokol kesehatan yang harus dijalankan oleh warga Kota Surabaya," ujar Risma. Perwali yang dimaksudnya adalah Perwali Nomor 28 Tahun 2020.
Risma pun optimis pemberlakuan beleid tersebut bisa memutus mata rantai penyebaran COVID-19 di Surabaya. Namun tentu saja kuncinya satu, yakni masyarakat bisa mematuhi setiap poin peraturan yang dicantumkan di beleid tersebut.
Di sisi lain, kurva kasus positif Corona di Surabaya terus mengalami peningkatan. Namun situasi itu tak menyurutkan niat pemerintah setempat untuk tak melanjutkan PSBB dan mulai memasuki era transisi menuju tatanan hidup baru new normal.
(wk/elva)