Bikin Nyesek, Balita Ini Meninggal Gegara Kacaunya Penanganan Corona Sampai Ditolak 4 Kali Oleh RS
Nasional

Ahmad Basori, ayah mendiang, mengungkap putranya sudah meninggal dalam perjalanan lantaran terus ditolak oleh RS. Namun demi membesarkan hati istrinya, ia tetap membawa sang putra ke RS.

WowKeren - Beberapa waktu lalu kisah seorang ibu hamil yang harus kehilangan janin dalam kandungannya akibat ditolak rumah sakit saat hendak bersalin menjadi viral. Pasalnya penolakan itu disebut-sebut karena sang ibu hamil tak bisa membayar biaya untuk mengikuti protokol persalinan di tengah pandemi Corona.

Kini kembali terdengar kisah pilu serupa. Sebab seorang balita di Ambon, Maluku bernama Rafa harus meregang nyawa setelah ia ditolak oleh 4 RS. Rafa yang mengalami demam tinggi ditolak lantaran "terjegal" protokol kesehatan di tengah pandemi Corona.

Rafa memang sudah pernah dirawat selama 2 pekan di RSUD Haulussy pada Januari 2020 lalu. Kala itu Rafa didiagnosis mengidap leukemia dan anemia aplastik.

Suhu tubuhnya kembali memanas pada 20 Mei 2020 lalu, memaksa Ahmad Basoni, ayah Rafa, membawa sang putra ke RS Al Fatah. Sesampainya di sana Rafa diwajibkan mengikuti prosedur rapid test namun tak bisa dilaksanakan karena alat yang diklaim rusak.

Atas dasar itulah Ahmad dan istri kemudian melarikan Rafa ke RS Bhakti Rahayu. Mirisnya keluarga kecil ini ditolak karena rumah sakit disebut sedang melakukan proses sterilisasi virus Corona. Ahmad kemudian melarikan putranya ke RST dr Latumeten.

"Di sana kondisi anak saya sempat ditanyakan," ujar Ahmad, dikutip dari BBC Indonesia, Jumat (19/6). "Mereka bilang ada alat rapid test, tapi itu khusus untuk ibu hamil. Lagipula, kata mereka, sedang tidak ada dokter anak."


Rafa kembali dibawa ke RS GPM, yang juga sedang disterilisasi, serta RSUD Haulussy yang menolak sang balita karena puluhan tenaga medisnya terpapar COVID-19. Alhasil Ahmad dan istri terpaksa membawa pulang Rafa yang kondisinya sudah sangat buruk.

Kondisi yang memburuk membuat Ahmad memutuskan untuk membawa Rafa ke RS Bhayangkara. Mirisnya, Rafa meninggal dalam perjalanan. "Di jalan, ibu mertua saya bilang bahwa Rafa sudah meninggal. Tapi untuk membesarkan hati istri saya, kami tetap melanjutkan perjalanan ke rumah sakit," bebernya.

Meninggalnya sang putra benar-benar membuat Ahmad kecewa pada prosedur penanganan pasien non-Corona yang dianggap lepas tangan begitu saja. Namun demikian Ahmad mengaku tak akan menuntut rumah sakit maupun pemerintah dan berusaha mengikhlaskan kepergian Rafa.

"Saya kecewa sekali rumah sakit tidak bisa berbuat apa-apa. Harusnya mau pasien COVID-19 atau tidak, tangani saja, tidak usah pilih-pilih," ujar Ahmad. "Saya protes tidak ada penanganan. Kalau ditangani, mungkin Rafa masih ada dan berkumpul dengan keluarga kami."

"Saya protes tapi tidak menuntut. Saya protes karena tidak ada penanganan untuk anak saya," imbuh Ahmad.

Kejadian ini pun juga mendapat atensi khusus dari Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Maluku, Meykel Ponto. Hanya saja Meykel menyangkal bahwa Rafa meninggal karena ditolak rumah sakit seperti penuturan Ahmad.

"Rumah sakit yang dia tuju memang penuh," ujar Meykel via telepon. "Pada perjalanan ke rumah sakit lainnya, dia meninggal."

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait